Entry: Trilogy "Saatnya" di pesisir Mariso Wednesday, July 16, 2008



Wattunna Matayya Carita. Carita tentang Mariso wattu riolo sanggenna kamma kammanne. Carita passala’ passulo, paboya tude, loro, pannambungang alloang, goccang-goccang, anak sikola, jamang allo.. Wattunna katte-katte bicara, saatnya kami bicara. Wattunna katte carita.. Demikianlah yang hendak disampaikan oleh anak-anak dan remaja yang tinggal di sekitar pesisir Mariso. Tibalah saatnya mereka yang menyuarakan apa yang selama ini mereka amati dan menjadi bagian dari kesehariannya lewat acaranya yang mereka sebut sebagai Trilogy “Saatnya”

 ------***------

Anak dan remaja seringkali dianggap tidak cukup penting untuk mengeluarkan pendapatnya atas pembangunan yang terjadi di lingkungannya. Mereka seakan dibungkam untuk menyuarakan pengamatannya tentang apa yang terjadi di sekitarnya. Sementara perubahan yang mengatasnamakan pembangunan terus terjadi bahkan kian lama secara perlahan menggusur lingkungan serta mengambil alih tempat bermain dan belajar mereka. Mereka dianggap belum dewasa untuk berperan serta dalam proses perubahan dan pembangunan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tugas mereka cukup hanya belajar dan atau bekerja membantu orang tua. Segala tetek bengek pembangunan dan masalah sosial adalah urusan orang dewasa dan pemerintah.

Selama ini yang terjadi adalah pembangunan fisik yang terus menerus dilakukan oleh pemerintah yang kerapkali tidak dibarengi oleh upaya-upaya memperhatikan dan memperbaiki efek dari perubahan yang terjadi karena pembangunan tersebut. Padahal, dalam UU no 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak mengatakan bahwa anak (dan remaja) adalah tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan. Bahwa agar setiap anak kelak mampu memikul tanggung jawab tersebut, maka ia perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial, dan berakhlak mulia, perlu dilakukan upaya perlindungan serta untuk mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya serta adanya perlakuan tanpa diskriminasi. Sementara akibat dari pembangunan itu justru paling rentan memberikan efek kepada mereka yang masih belia ini. Mereka menjadi kekurangan public space sebagai tempat bermain, minimnya sarana dan prasarana yang mendukung potensi pengembangan diri mereka akibat prioritisasi pembangunan yang tidak memihak  pada peningkatan kapasitas mereka sebagai individu. Inilah yang coba digambarkan oleh anak-anak dan remaja di kawasan pesisir Mariso yang menjadi binaan dari SOKOLA, sebuah lembaga pendidikan alternatif yang banyak memfokuskan diri pada pendampingan pendidikan dan ketrampilan hidup untuk anak dan remaja.

Berbagai peristiwa, aktifitas pembangunan dan perubahan yang terjadi di kawasan pesisir Mariso yang terjadi dalam beberapa waktu belakangan ini direkam oleh anak-anak dan remaja (usia 6 – 18 tahun) tersebut melalui berbagai media yang dianggap mampu menyuarakan pikiran, perasaan dan pendapat mereka selama ini. Sejak kurang lebih setahun terakhir ini, anak-anak dan remaja yang berada dibawah binaan para volunteer SOKOLA ini dibekali dengan berbagai kegiatan dan ketrampilan dengan menggunakan media dimana mereka bisa belajar untuk melihat potensi diri sebagai individu yang mempunyai kekuatan untuk memaknai diri dan berperan serta dalam proses pembangunan yang terjadi disekeliling mereka dan di kehidupan sehari-hari.



(pementasan teater anak-anak)

Melalui media newsletter “Kareba” yang terbit setiap dua kali sebulan, mereka dilatih jurnalistik dasar dan penulisan sehingga berbagai kejadian dan hal-hal yang menarik yang terjadi disekitar kawasan Mariso dapat mereka tuangkan dalam berbagai tulisan seperti halnya seorang citizen reporter dimedia-media besar lainnya. Tawuran, permainan goccang-goccang, payabo bahkan hingga angin puting beliung yang merusak atap sekolah mereka pun dituangkan sebagai bentuk kesadaran kritis mereka yang kian berkembang.  Mereka juga mencoba menyuarakan persepsinya atas gambaran sosial lingkungan melalui media lainnya. Lewat foto-foto, lukisan dan video komunitas yang mereka buat bersama, terekam berbagai realitas  kehidupan warga Mariso yang sarat akan kesederhanaan namun tetap menggambarkan keceriaan serta keunikan keseharian masyarakatnya.


(Pameran lukisan)

Sebagai bentuk apresiasi terhadap karya anak-anak dan remaja ini dan dalam rangka memperingati Hari Anak, pada tanggal 12 Juli lalu, bertempat di kawasan Mariso pihak SOKOLA yang didukung oleh SoFEI dan Save The Children UK mengadakan Pementasan Teater serta Pameran Foto dan Lukisan dengan tema “Saatnya Mata Bercerita, Saatnya Kami Bicara, Saatnya Kami Bercerita”. Dalam pementasan yang berjudul “Saatnya Kami Bercerita” tersebut menceritakan tentang potret suka-duka kehidupan masyarakat pesisir yang diperankan oleh 20 anak-anak dan remaja. Melihat keceriaan dan kepolosan mereka dalam melakonkan suka-duka kehidupan masyarakat pesisir Mariso yang digambarkan dengan sangat lucu dan lepas, menunjukkan betapa segala permasalahan yang mereka alami sebagai akibat dari perubahan yang terjadi dikeluarga dan sekitarnya oleh pembangunan ternyata mampu dihadapi dengan senyum dan tawa polos kanak-kanak yang ceria. Dan walaupun diusia yang masih belia, mereka bisa memperlihatkan kesadaran kritisnya atas apa yang berlangsung di lingkungannya. Ini terlihat pada lukisan dan foto-foto yang dipamerkan yang sarat dengan objek yang tidak jauh dari keseharian mereka. Sapuan kuas dan jepretan foto mereka yang meskipun masih dalam kategori pemula ternyata mampu membawa kita dalam imajinasi mereka mengenai lingkungan sekitarnya. Bagaimana mereka mesti membiasakan diri hidup dengan genangan sampah, anak-anak yang mesti bekerja membantu orangtua sebagai tukang becak, nelayan yang pergi mencari tude, pinggiran kanal yang berubah fungsi menjadi WC umum dan banyak lagi yang terekam secara ekspresif dalam karya-karya mereka. Bersamaan dengan pementasan teater dan pameran tersebut, juga diluncurkan buku yang berisi kumpulan karya anak-anak pesisir Mariso-Makassar terhadap peristiwa dan perubahan yang terjadi di sekitarnya. Penjualan buku yang berjudul “Saatnya Kami Bicara” ini akan disumbangkan bagi pengembangan Balla Pappilajarang SOKOLA Makassar agar dapat terus memberikan yang terbaik bagi pendidikan dan pelatihan anak-anak di pesisir Mariso. Seperti yang dikatakan oleh Lasti Kurnia, seorang fotojurnalis Harian Kompas, bahwa lewat buku yang memuat artikel, puisi, fiksi dengan ilustrasi karya lukis anak-anak Mariso ini menjadi gambaran yang sangat berharga untuk mengenal masyarakat pesisir Mariso bagi orang-orang yang berada diluar  komunitas tersebut. Aan Mansyur, seorang sastrawan muda Makassar, dalam komentarnya pula mengatakan bahwa anak-anak yang menulis buku ini memberi contoh bagaimana caranya melunasi hutang kita kepada dunia dalam membuat catatan tentang diri kita. Tepuk tangan yang tak putus-putusnya, teriakan kegembiraan masyarakat dan airmata yang bergenang oleh tatapan haru para penonton malam itu membuat kita tersadarkan bahwa kita memang mesti malu pada mereka, kita mesti belajar banyak pada anak-anak ini.


(Buku dan Film Dokumenter Anak Pesisir Mariso)


   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments