|
![]() -salah satu sudut di lokasi cakar- Toddopuli, 20 Juni 2007 Suasana tampak mulai sepi. Beberapa penjaga toko mulai berbenah dan merapikan gantungan-gantungan baju yang sebagian besar pakaian dari Korea. Nampak warna-warni mencolok mata. Ada juga yang mengkhususkan diri menjual pakaian renang, baju kaos, jaket, celana jeans, sepatu, tas, bahkan seprai. Untuk baju kaos oblong berkisar antara lima ribu sampai sepuluh ribu rupiah. Pakaian renang mulai dari harga sepuluh ribu sampai dengan dua puluh lima ribu rupiah. Untuk baju Korea harganya cukup mahal, sekitar lima puluh ribu rupiah sepotongnya. Itu masih harus dipermak lagi di tukang jahit menjadi kebaya modern atau celana panjang. Harga-harga tersebut di atas masih bisa lebih murah lagi, tergantung dari kepiawaian anda menawarnya. Bahkan di tempat-tempat tertentu seperti di pasar-pasar ada yang menawarkan dengan harga seribu rupiah saja untuk sepotong kemeja kerja dengan model dan kondisi yang bagus. Tentu saja untuk harga semurah itu tak didapatkan di Mal atau pusat perbelanjaan dengan ACnya yang dingin tetapi di tempat yang disebut dengan "Cakar", kependekan dari cap karung. Disebut cap karung karena barang-barang tersebut sebelumnya dimasukkan ke dalam karung-karung atau biasa disebut bal. Barang yang datang pun memiliki jadwal tetap dan untuk setiap barang yang baru tiba dan langsung digelar disebut dengan 'buka baru'. Kebanyakan pakaian atau barang-barang tersebut berasal dari negara-negara Asia, sebagian besar adalah bekas pakai. Namun jangan keburu melirik sebelah mata dengan cakar. Banyaknya lokasi cakar di Makassar menunjukkan minat masyarakat terhadap barang second ini cukup tinggi. Bukan hanya dari kalangan bawah, bahkan banyak juga masyarakat yang termasuk dalam kalangan menengah keatas yang tampak tengah berburu Cakar. Deretan mobil dan motor yang terparkir setiap harinya membuktikan bahwa cakar sudah menjadi salah satu fenomena tersendiri bagi masyarakat kota Makassar, utamanya kaum muda yang ingin tetap tampil trendi dengan harga terjangkau. Kalau dahulu orang masih malu-malu mengakui pakaian yang dipakai adalah cakar, sekarang banyak yang dengan bangganya menyebut dirinya dengan ABC atau atas-bawah cakar. Inilah salah satu yang selalu mengingatkan saya pada Makassar selain tentu saja coto Makassarnya yang terkenal itu. Mungkin tak salah bila Makassar selain disebut dengan kota sejuta pete-pete (angkutan umum) dan kota sejuta ruko (rumah-toko), juga bisa diidentikkan dengan kota sejuta Cakar... |
| sappiseng.. June 28, 2007 04:28 AM PDT Loh ini kan dekat rumahnya nenekku.. na disini ji ka juga beli baju lebaran hasil gaji pertamaku.. waktu itu kalo tidak salah.. Rp.2500 untuk sebuah kemeja.. sama Rp.8500 untuk sebuah jeans.. mungkin karena beruntung.. waktu itu saya dapat jeans bermerek LEVIS.. semoga menang ya.. !!! EWAKO..!! (eh nda boleh bilang "ko..") oiya di'.. mahhap.. EWAKI..!! | ||
| jul June 23, 2007 10:38 PM PDT wah, mengingatkan aku pada parepare =b..... (langsung saja mengingatkan aku juga pada liriknya lagunya padi =b) | ||
| Samalona June 23, 2007 02:40 AM PDT Kayaknya saya lewat situ waktu mau pulang dari Skynet trus kesasar tanpa jarum kompas. | ||
| rara June 21, 2007 10:29 PM PDT wahahahahaha saya setuju :D tapi.. bukannya Pare-pare juga terkenal dengan cakarnya? :D | ||
| yuyi June 21, 2007 07:08 PM PDT yoii...bahkan di kota asalnya pun ada cakar loh...nanti sy fotokan nah! mudah2an menang cs! | ||
| Adink June 21, 2007 12:12 PM PDT Weee... dekat rumahku ini... | ||
| Leave a Comment: |