|
Dahulu engkau janjikan untukku sebuah rumah kardus berwarna biru untuk tempat kita berbulan madu dan menghasilkan anak yang lucu-lucu 2/ aku menamainya dengan hati meski tak selalu terikat rapi disudut-sudut tlah terpatri pasti puisi-puisi sehidup semati 3/ di jalan setapak tak berjejak dedaun layu berserak-serak kenangan terkepak kotak impian tak lagi berpijak 4/ malaikat menyanyikan lagu kematian engkau memaksa menyebutnya perpisahan tetapi bagiku itu adalah pengkhianatan yang dihujamkan perlahan-lahan (Mks, Juni 2007) |
| Dawud Lumbuq July 7, 2007 03:06 AM PDT Terima kasih atas rekayasa debat malam tentang MLM yang seru. Plak….plakk..plakkk..(applause panjang) Sa tambah kagum sama qta. Mampu merekayasa perdebatan seru. Hebat.. Perdebatan yang cukup menggetarkan. Hampir q bikin berkelahi orang. Banyak orang hanyut terpancing. Ck..ck…hebat (applause panjang) memancing dan terlibat perdebatan dengan serius, padahal qta hanya bersandiwara. (luarrr biassaa…) Orang di sekeliling anggap q kontra, dengan tegas kontra, lantas setelah perdebatan usai dengan cerdik qta bisa cuci tangan dengan aman dengan bilang: “Lho, saya kan cuma merekayasa ji. Tak benar-benar bermaksud kontra, gitchu loh?!” Lantas orang di sekeliling mafhum, maklum. Wah…hebat, saya harus banyak belajar. Eh, tapi itu termasuk cerdik ato licik ya? | ||
| soeltra July 1, 2007 01:26 AM PDT so sweeettt...so deep...nice poem sista' | ||
| Leave a Comment: |