|
![]() Berkumpul di Pantai Losari, depan rumah jabatan walikota Makassar Hari itu, 18 Februari 2007, cuaca agak mendung, suhu masih terasa cukup
dingin dan gerimis sesekali jatuh. Saya bersama dua kawan dari Kanada,
Julie dan Sofie, baru saja tiba di depan rumah jabatan walikota
Makassar. Tempat ini menjadi lokasi berkumpulnya anggota komunitas
sepeda gunung yang akan menemani kami berkeliling sambil melihat-lihat
aktivitas pagi hari di Pantai Losari. Komunitas ini bersiap mengukuhkan
diri dengan nama, Losari Cycling Community (LCC). Mereka
mempunyai dua titik pertemuan: di depan rumah jabatan walikota dan
depan gedung DPRD Makassar di Jalan Hertasning. Para anggota LCC
berkumpul di salah satu tempat ini, tergantung rute mana yang akan
ditempuh. Hari sebelumnya kami telah bertemu dengan salah seorang penggiat komunitas sepeda ini, A. Mappaware Nuhung. Ia mengajak kami ikut dalam rute pendek dan bersedia meminjamkan sepedanya untuk kami gunakan. Namun karena hanya ada dua sepeda tersedia, maka Sofie memilih berjalan-jalan mengitari pantai dan berjanji bertemu beberapa jam kemudian di tempat semula. Sambil menunggu anggota lain yang akan bergabung, saya, Julie dan Pak Mappaware melakukan pemanasan sambil mencoba sepeda. Aroma makanan yang tercium di sepanjang trotoar Jalan Penghibur membuat perut keroncongan. Kami lalu memilih salah satu meja kosong dan memesan masing-masing semangkuk bubur ayam. Perut yang sudah terisi dan udara segar membuat kami bersemangat segera memulai perjalanan bersepeda. Rute yang akan ditempuh adalah yang paling mudah dan singkat, karena saya dan Julie memang belum berpengalaman mengendarai sepeda dengan jarak cukup jauh. Dimulai dengan menyusuri Jalan Metro Tanjung Bunga, saya mengayuh sepeda dengan nafas sedikit tersengal-sengal. Julie dan rombongan lain cukup jauh mendahului. Saya mencoba mengejar salah seorang kawan dalam rombongan, bernama Pak Ahmad, pemilik toko sepeda yang terletak di Jalan Veteran. Sudah setahun lebih ia bergabung dengan komunitas ini, namun akrab dengan sepeda sudah cukup lama, sejak masih tinggal di Jakarta. Menurut Pak Ahmad, tak perlu mendaftarkan diri atau memakai atribut lengkap untuk bergabung. Anggota LCC bisa mengayuh sepeda gunung, sepeda balap atau bahkan sepeda kumbang pun. LCC berkembang dengan cara alamiah, terkadang melalui perjumpaan di jalan dengan sesama pengendara sepeda yang lalu diajak bergabung mengitari rute yang akan dilalui, sambil berbincang-bincang dan bertukar nomor telepon. Seperti yang dialami hari itu, di tengah perjalanan, di depan Rusunawa (Rumah Susun Sederhana Sewa) GTC, kami bertemu dengan seorang pengendara sepeda yang sedang menuju ke arah sama. Oleh Pak Ahmad, ia diajak bergabung. Namanya Pak Rasyid, bekerja di salah satu bank swasta. Sembari mengayuh sepeda dengan kecepatan sedang, kami melanjutkan perbincangan bertiga. Menurut Pak Ahmad, anggota komunitas sepeda ini terdiri dari berbagai latar belakang. Ada mahasiswa, dokter, pegawai bank, wiraswasta, dan arsitek. Ada yang masih bujang, ada juga yang sudah berkeluarga. Beberapa anggotanya juga tergabung dalam klub sepeda balap yang setiap hari, mulai pukul 5 pagi sampai pukul 6, balapan di Jalan Metro Tanjung Bunga. Bahkan salah seorang anggotanya yang juga seorang dokter di RS Wahidin Sudirohusodo, setiap bertugas jaga selalu menggunakan sepeda dari rumahnya di Jalan Sunu sampai ke rumah sakit. Rupanya anak muda ini juga anggota dari komunitas Bike to Work yang ada di Jakarta. Tidak ada pengurus resmi komunitas ini dan siapa pencetusnya pun tak jelas. Yang pasti semua anggotanya pecinta olahraga sepeda. Rencananya komunitas ini akan segera diresmikan dengan beberapa program seperti wisata-olahraga, seperti yang kami lakukan hari itu, juga kampanye bike to work. Saya tentu sangat tertarik. Sayangnya, semua anggota yang terdaftar saat ini semuanya laki-laki. ![]() Beristirahat di Benteng Somba Opu Tak terasa kami telah melewati Jalan Metro Tanjung Bunga dan berbelok
melewati SMU Dian Harapan menuju pematang kecil yang menghubungkan
dengan perkampungan di sekitar Benteng Somba Opu. Pemandangan indah dan
menyegarkan menyambut kami. Deretan sawah menghijau terhampar.
Perkampungan terasa hidup dengan suara kanak-kanak bermain dan ibu-ibu
yang tengah menawar sayuran yang dijual pagandeng. Sesekali kami mesti melewati genangan air dan lumpur becek. Tadinya saya tak mengira kalau sepeda pun memiliki gear
depan dan belakang untuk mengatur laju. Walhasil beberapa kali saya
mesti mengayuh dengan susah payah terutama saat berada di tanjakan.
Untungnya tak lama kemudian Pak Mappaware menjelaskan fungsi gear dan akhirnya saya bisa dengan mudah melewati jalanan yang tak beraspal dan bergunduk.
Sesampai di Benteng Somba Opu kami beristirahat sejenak, menikmati deretan rumah-rumah adat, dan berfoto. Kami menjelaskan secara singkat arti bangunan rumah adat kepada Julie yang begitu tertarik. Di sekitar kawasan benteng, ada sungai kecil tempat anggota baru komunitas sepeda ini “dilantik”. Selanjutnya kami mengitari Benteng Somba Opu dan keluar dari tembok belakang yang juga berbatasan dengan perkampungan sekitar Kanal Patompo. Jalur yang kecil dan sempit membuat saya dan Julie sesekali terpaksa menuntun sepeda. Tetapi teman-teman lain yang sudah terbiasa dengan mudah melewatinya. Saya, Julie dan Pak Rasyid cukup kewalahan melalui jalan berlumpur di samping kanal aliran Sungai Jeneberang. Saya takut terjatuh ke dalam sungai. Teman-teman memandu kami mencari jalan yang mudah dan tak tergenang. ![]() Menyaksikan pemandangan alam dan segarnya pagi Pak Ahmad menceritakan, rute favorit mereka adalah dari Jalan
Hertasning menuju BTP, lewat belakang perumahan tembus ke Antang dan
akhirnya berakhir di Danau Mawang. Rute off road yang berat dan
cukup sulit dilalui. Jika mereka mulai jalan pukul 6 pagi, biasanya
berakhir pukul 11 atau 12 siang. Namun kali ini kami hanya menempuh
jarak kurang lebih 30 kilometer dan kembali ke lokasi awal tepat pukul
9 pagi. Saya dan Julie tak menyangka bisa menyelesaikan rute ini dan
menempuh jarak di luar perkiraan. Meskipun saya sampai mandi keringat
dan merasa perjalanan itu tak berakhir, akhirnya begitu melihat gerbang
Tanjung Bunga lagi , saya kembali bersemangat dan memacu sepeda. Bersama-sama kami lalu menuju salah satu kafe yang terletak di sudut Jalan Bontolempangan. Sofie pun bergabung bersama kami sambil memperlihatkan foto-foto bidikannya sewaktu berjalan-jalan. Rencananya minggu depan, komunitas sepeda ini akan menuju ke Bendungan Bili-bili, sekaligus bertamasya di sana. Seru juga mengisi akhir pekan dengan bersepeda, sekaligus berwisata, melihat tempat-tempat baru dan pemandangan alami. Mungkin pemerintah bisa melirik potensi kegiatan bersepeda ini sebagai salah satu paket wisata kota sekaligus mengkampanyekan hidup sehat dan hemat energi. Nah, jika suatu saat anda bersepeda dan bertemu serombongan orang dengan bermacam jenis sepeda dan atributnya serta mengajak bergabung, jangan sungkan mengikuti mereka, para penggemar sepeda di Losari Cycling Community. |
| Leave a Comment: |