|
|
 |
Tuesday, July 10, 2007
Mau Seperti Pasha Ungu..?? Ke DPR saja..!!

lapak tukang cukur di bawah pohon rindang
Hari belumlah terik benar. Jam menunjukkan pukul 11.30 siang, namun matahari masih nampak malu-malu menyapa Makassar. Ruas Jalan Mesjid Raya, di depan Mesjid Al Markas Al Islami juga terlihat lengang. Dari kejauhan, tampak deretan pondok-pondok kecil serupa lapak-lapak bambu, yang berjejer rapi di bahu jalan sebelah kanan trotoar pejalan kaki. Ada sekitar tujuh lapak dengan bentuk dan disain yang sama, semuanya ditumpukan pada dinding besar yang mengelilingi lahan seputaran sudut jalan. Tak ada pintu apalagi jendela, hanya ada atap, tiang penyangga dan sandaran untuk duduk. Ketujuhnya diapit oleh pohon besar yang rindang dan rimbun. Seingat saya, sejak masih kanak-kanak dahulu, saat ayah membawa kami sekeluarga berkeliling kota dan melewati jalan ini, jejeran lapak-lapak itu sudah ada, meskipun masih sederhana dan tidak serapi sekarang ini. Saya tertarik untuk mendekati salah satu lapak yang berada dideretan kedua.
Dari tujuh lapak, hanya dua yang kosong dan tertutup. Luas satu lapak sekitar satu setengah meter kali satu setengah meter. Di dalamnya ada sebuah cermin besar persegi yang diletakkan di atas meja berkaki tinggi dan memiliki laci-laci kecil tempat penyimpanan barang. Sebuah kursi diletakkan di depannya dan sebuah bangku panjang disandarkan sebagai tempat untuk menunggu. Di atas meja tergeletak dua buah sisir, gunting per, kuas, body talk, pisau kecil, spons, semprotan air, wadah kecil berisi air dan sekotak sabun yang tinggal setengah. Sehelai kain biru berukuran satu meter persegi digantungkan pada sisi cermin.
Si pemilik lapak dengan ramahnya menyapa saya. Namanya Udin, usianya sekitar 30-an, dan sudah sekitar sepuluh tahunan bekerja di lapak ini sebagai tukang cukur. Ketujuh lapak tersebut memang adalah khusus tempat usaha cukur rambut yang terletak di Jalan Mesjid Raya. Meskipun tidak memiliki ijin resmi, usaha ini sudah berlangsung belasan tahun. Menurut Udin, setiap hari mereka membayar retribusi kebersihan sebesar Rp500 dan belum pernah digusur, hanya beberapa kali mendapat teguran jika kebersihan tidak terjaga. Tak lama seorang pelanggan masuk ke lapak 'Anugrah' milik Udin. Kain biru tadi lalu disampirkan sebagai alas dibahu pelanggan tersebut yang bernama Ajis.
Sembari melihat cara kerja Udin, saya juga berbincang-bincang dengan Ajis, pensiunan salah satu perusahan BUMN yang datang dua bulan sekali ke sini. Karena sudah laama menjadi langganan ia sudah sangat kenal dengan para tukang cukur. Walaupun tinggal cukup jauh di Tamalanrea, Ajis lebih memilih tempat ini daripada tempat cukur lainnya yang terkenal di Makassar. Selain karena Ajis senantiasa merasakan nostalgia masa kecil melhiatr alat cukur gunting per yang digunakan, juga karena cara mencukurnya tidak terlalu terburu-buru ditambah bonus angin sepoi-sepoi yang berhembus di sela-sela dedaunan yang melindungi lapak dari terpaan sinar matahari. Ajis menceritakan bahwa dahulu pada tahun 80-an, ongkos cukur untuk orang dewasa masih seharga Rp1.000. Seiring waktu dan harga-harga yang kian melonjak, ongkos cukur pun menjadi Rp7.000 untuk dewasa, Rp6.000 untuk anak-anak dan Rp3.000 untuk cukur jenggot dan kumis.
Ajis juga menambahkan bahwa hal yang menarik dan selalu membuat ingin kembali jika bercukur di tempat ini karena ongkos masih bisa ditawar, apalagi jika sudah menjadi pelanggan tetap. Sembari melap leher Ajis dari rambut-rambut kecil sisa guntingan dengan spons yang sudah di lumuri bedak, Udin sang tukang cukur menimpali bahwa biasanya rata-rata 5-7 orang yang datang bercukur setiap harinya. Paling ramai di hari Minggu, pada saat bulan puasa, hari gajian atau terima pensiunan. Di waktu-waktu itu bisa sampai 10 orang lebih yang datang seharinya, mulai dari anak-anak, remaja dan orang dewasa. Masing-masing dicukur dengan model rambut yang diinginkan. Misalnya model potongan Mandarin atau potongan yang tidak terlalu pendek adalah potongan model ini diminta oleh bapak-bapak yang sudah beruban untuk memudahkan dalam pengecatan rambut. Ada juga model perwira jenis 1-3, maksudnya rambut yang disisakan sepanjang 1 - 3 sentimeter.

(sedang beraksi, mencukur pelanggan, plus bonus angin sepoi-sepoi)
Tak jauh dari lapak milik Udin, terdapat lapak milik Sahabudin yang sudah ditempati sejak tahun 1996. Menurutnya, yang mula-mula mendirikan usaha cukur rambut di lokasi Jalan Mesjid Raya ini adalah ayahnya yang bernama Amin pada awal tahun 80an. Dahulu tempatnya masih belum seteratur sekarang, hanya satu-dua tukang cukur yang mangkal. Jika tukang cukur Madura terkenal karena memiliki tempat sendiri yang berbentuk seperti rumah, maka tukang cukur di sini yang semuanya masih berasal dari satu rumpun keluarga dan sebagian besar dari suatu kabupaten di Makassar ini dikenal dengan nama tukang cukur DPR atau Di bawah Pohon Rindang karena berada tepat di bawah rimbunan dedaunan pohon besar yang menaungi lapak-lapak tersebut.
Sebagian besar tukang cukur DPR ini adalah generasi kedua yang secara otodidak belajar dari ayah atau paman mereka sebelumnya. Setiap hari mereka buka mulai pukul 8 pagi sampai kurang lebih pukul 5 sore. Pelanggan yang datang dari berbagai kalangan seperti supir angkot, kuli bangunan, tentara, polisi, mahasiswa, pelajar, pensiunan, dan sebagainya. Tak jauh dari lokasi ini terdapat kantor polisi yang juga menjadi pelanggan tetap mereka. Bahkan, sejak lima tahun lalu, setiap bulan Maret dan November dimana masa pendidikan calon polisi di SPN Batua digelar, beberapa tukang cukur DPR ini dipanggil untuk mencukur rambut calon polisi tersebut dan mereka dibayar perbulannya sesuai jumlah kepala yang dicukur.

(jejeran tukang cukur)
(bisa juga dibaca disini )
Posted at 07:58 pm by dejablue
Permalink
Wednesday, June 20, 2007
Makassar, kota sejuta cakar..!!
-salah satu sudut di lokasi cakar- Toddopuli, 20 Juni 2007
Suasana tampak mulai sepi. Beberapa penjaga toko mulai berbenah dan merapikan gantungan-gantungan baju yang sebagian besar pakaian dari Korea. Nampak warna-warni mencolok mata. Ada juga yang mengkhususkan diri menjual pakaian renang, baju kaos, jaket, celana jeans, sepatu, tas, bahkan seprai. Untuk baju kaos oblong berkisar antara lima ribu sampai sepuluh ribu rupiah. Pakaian renang mulai dari harga sepuluh ribu sampai dengan dua puluh lima ribu rupiah. Untuk baju Korea harganya cukup mahal, sekitar lima puluh ribu rupiah sepotongnya. Itu masih harus dipermak lagi di tukang jahit menjadi kebaya modern atau celana panjang. Harga-harga tersebut di atas masih bisa lebih murah lagi, tergantung dari kepiawaian anda menawarnya. Bahkan di tempat-tempat tertentu seperti di pasar-pasar ada yang menawarkan dengan harga seribu rupiah saja untuk sepotong kemeja kerja dengan model dan kondisi yang bagus. Tentu saja untuk harga semurah itu tak didapatkan di Mal atau pusat perbelanjaan dengan ACnya yang dingin tetapi di tempat yang disebut dengan "Cakar", kependekan dari cap karung. Disebut cap karung karena barang-barang tersebut sebelumnya dimasukkan ke dalam karung-karung atau biasa disebut bal. Barang yang datang pun memiliki jadwal tetap dan untuk setiap barang yang baru tiba dan langsung digelar disebut dengan 'buka baru'. Kebanyakan pakaian atau barang-barang tersebut berasal dari negara-negara Asia, sebagian besar adalah bekas pakai. Namun jangan keburu melirik sebelah mata dengan cakar. Banyaknya lokasi cakar di Makassar menunjukkan minat masyarakat terhadap barang second ini cukup tinggi. Bukan hanya dari kalangan bawah, bahkan banyak juga masyarakat yang termasuk dalam kalangan menengah keatas yang tampak tengah berburu Cakar. Deretan mobil dan motor yang terparkir setiap harinya membuktikan bahwa cakar sudah menjadi salah satu fenomena tersendiri bagi masyarakat kota Makassar, utamanya kaum muda yang ingin tetap tampil trendi dengan harga terjangkau. Kalau dahulu orang masih malu-malu mengakui pakaian yang dipakai adalah cakar, sekarang banyak yang dengan bangganya menyebut dirinya dengan ABC atau atas-bawah cakar. Inilah salah satu yang selalu mengingatkan saya pada Makassar selain tentu saja coto Makassarnya yang terkenal itu. Mungkin tak salah bila Makassar selain disebut dengan kota sejuta pete-pete (angkutan umum) dan kota sejuta ruko (rumah-toko), juga bisa diidentikkan dengan kota sejuta Cakar...
Posted at 08:44 pm by dejablue
Permalink
Tuesday, June 19, 2007
: lys
aku benci hujan mengingatkanku pada kesepian seperti lou han berenang sendirian dingin menahan tangisan
aku lalu memaki ingatan yang tak pernah bisa menghalau kerinduan mengalir cecerannya jadi genangan hari ini banjir kenangan
(Mks, Juni 2007)
Posted at 04:26 pm by dejablue
Permalink
1/ Dahulu engkau janjikan untukku sebuah rumah kardus berwarna biru untuk tempat kita berbulan madu dan menghasilkan anak yang lucu-lucu
2/ aku menamainya dengan hati meski tak selalu terikat rapi disudut-sudut tlah terpatri pasti puisi-puisi sehidup semati
3/ di jalan setapak tak berjejak dedaun layu berserak-serak kenangan terkepak kotak impian tak lagi berpijak
4/ malaikat menyanyikan lagu kematian engkau memaksa menyebutnya perpisahan tetapi bagiku itu adalah pengkhianatan yang dihujamkan perlahan-lahan
(Mks, Juni 2007)
Posted at 03:28 pm by dejablue
Permalink
Thursday, June 14, 2007
Pagi tadi aku bertanya pada hujan yang malu-malu menyapa " akankah senja melupakan janji dan memilih lari? " setelah letih memaki matahari dan bosan mencibir langit tiba-tiba mengirim badai tanpa permisi esok hari.
.............................................................................................
( It's not a life if it isn't full of surprises ) Can't hardly wait for another surprises
Posted at 06:01 pm by dejablue
Permalink
Wednesday, May 02, 2007
hampir semua sudut sudah kuhampiri tapi tak satupun juga bisa kudapati yang telah lama kucari-cari sepasang sandal hitam milik kekasih
sudah butut namun terasa lembut dahulu berdiri gagah di bawah tangga penuh dedebu rak sepatu pemberi tanda pemilik ada
setiap hari aku akan kembali sampai dia kutemukan lagi meski harus menanti sampai mati
Posted at 02:13 pm by dejablue
Permalink
Monday, April 23, 2007
Seringkali saya lupa Tuhan bekerja dengan caraNya Sesuai pada waktunya Doa ini selalu menjadi pengingat Untuk tak letih berharap. THE SERENITY PRAYER
God, grant me the serenity to accept the things I cannot change; courage to change the things I can; and wisdom to know the difference. Living one day at a time; Enjoying one moment at a time; Accepting hardships as the pathway to peace; Taking, as He did, this sinful world as it is, not as I would have it; Trusting that He will make all things right if I surrender to His Will; That I may be reasonably happy in this life and supremely happy with Him Forever in the next. Amen. --Reinhold Niebuhr
Posted at 07:23 pm by dejablue
Permalink
Tuesday, March 13, 2007
Life is so unpredictableLife is amazing...!!!A friend of mine will get marry at this end of March.. So happy for him Kak Ary and Mellanie... life has just began... life means up and down, so wish you both a very happy up and down in marriage...!!! Happy for you !! ps : They will get marry in March 31th 2007 Vermont, USA
Posted at 10:48 am by dejablue
Permalink
Thursday, March 08, 2007
: JSW
sekali ini saja pintaku seperti dahulu senja dan pagi merindu juga engkau memaafkan aku
Posted at 09:17 am by dejablue
Permalink
Monday, March 05, 2007
: elya
selalu saja indah menatap senja yang melintas walau mungkin ia lupa untuk sejenak menyapa meski sekilas
ps : rindu
Posted at 04:03 pm by dejablue
Permalink
|