[Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket]






dejablue
GOD has made everything beautiful in its time..!!
Myspace Layouts, Myspace Graphics, & More!
Click here to make Falling Objects Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Glitter Text @ Glitterfy.com
   

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket


MusicPlaylist

<< July 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31

myspace comments
More eComments banner angingmammiri
Widget_logo

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, July 10, 2007
Mau Seperti Pasha Ungu..?? Ke DPR saja..!!

lapak tukang cukur di bawah pohon rindang

Hari belumlah terik benar. Jam menunjukkan pukul 11.30 siang, namun matahari masih nampak malu-malu menyapa Makassar. Ruas Jalan Mesjid Raya, di depan Mesjid Al Markas Al Islami juga terlihat lengang. Dari kejauhan, tampak deretan pondok-pondok kecil serupa lapak-lapak bambu, yang berjejer rapi di bahu jalan sebelah kanan trotoar pejalan kaki. Ada sekitar tujuh lapak dengan bentuk dan disain yang sama, semuanya ditumpukan pada dinding besar yang mengelilingi lahan seputaran sudut jalan. Tak ada pintu apalagi jendela, hanya ada atap, tiang penyangga dan sandaran untuk duduk. Ketujuhnya diapit oleh pohon besar yang rindang dan rimbun. Seingat saya, sejak masih kanak-kanak dahulu, saat ayah membawa kami sekeluarga berkeliling kota dan melewati jalan ini, jejeran lapak-lapak itu sudah ada, meskipun masih sederhana dan tidak serapi sekarang ini. Saya tertarik untuk mendekati salah satu lapak yang berada dideretan kedua.

Dari tujuh lapak, hanya dua yang kosong dan tertutup. Luas satu lapak sekitar satu setengah meter kali satu setengah meter. Di dalamnya ada sebuah cermin besar persegi yang diletakkan di atas meja berkaki tinggi dan memiliki laci-laci kecil tempat penyimpanan barang. Sebuah kursi diletakkan di depannya dan sebuah bangku panjang disandarkan sebagai tempat untuk menunggu. Di atas meja tergeletak dua buah sisir, gunting per, kuas, body talk, pisau kecil, spons, semprotan air, wadah kecil berisi air dan sekotak sabun yang tinggal setengah. Sehelai kain biru berukuran satu meter persegi digantungkan pada sisi cermin.

Si pemilik lapak dengan ramahnya menyapa saya. Namanya Udin, usianya sekitar 30-an, dan sudah sekitar sepuluh tahunan bekerja di lapak ini sebagai tukang cukur. Ketujuh lapak tersebut memang adalah khusus tempat usaha cukur rambut yang terletak di Jalan Mesjid Raya. Meskipun tidak memiliki ijin resmi, usaha ini sudah berlangsung belasan tahun. Menurut Udin, setiap hari mereka membayar retribusi kebersihan sebesar Rp500 dan belum pernah digusur, hanya beberapa kali mendapat teguran jika kebersihan tidak terjaga. Tak lama seorang pelanggan masuk ke lapak 'Anugrah' milik Udin. Kain biru tadi lalu disampirkan sebagai alas dibahu pelanggan tersebut yang bernama Ajis.

Sembari melihat cara kerja Udin, saya juga berbincang-bincang dengan Ajis, pensiunan salah satu perusahan BUMN yang datang dua bulan sekali ke sini. Karena sudah laama menjadi langganan ia sudah sangat kenal dengan para tukang cukur. Walaupun tinggal cukup jauh di Tamalanrea, Ajis lebih memilih tempat ini daripada tempat cukur lainnya yang terkenal di Makassar. Selain karena Ajis senantiasa merasakan nostalgia masa kecil melhiatr alat cukur gunting per yang digunakan, juga karena cara mencukurnya tidak terlalu terburu-buru ditambah bonus angin sepoi-sepoi yang berhembus di sela-sela dedaunan yang melindungi lapak dari terpaan sinar matahari. Ajis menceritakan bahwa dahulu pada tahun 80-an, ongkos cukur untuk orang dewasa masih seharga Rp1.000. Seiring waktu dan harga-harga yang kian melonjak, ongkos cukur pun menjadi Rp7.000 untuk dewasa, Rp6.000 untuk anak-anak dan Rp3.000 untuk cukur jenggot dan kumis.

Ajis juga menambahkan bahwa hal yang menarik dan selalu membuat ingin kembali jika bercukur di tempat ini karena ongkos masih bisa ditawar, apalagi jika sudah menjadi pelanggan tetap. Sembari melap leher Ajis dari rambut-rambut kecil sisa guntingan dengan spons yang sudah di lumuri bedak, Udin sang tukang cukur menimpali bahwa biasanya rata-rata 5-7 orang yang datang bercukur setiap harinya. Paling ramai di hari Minggu, pada saat bulan puasa, hari gajian atau terima pensiunan. Di waktu-waktu itu bisa sampai 10 orang lebih yang datang seharinya, mulai dari anak-anak, remaja dan orang dewasa. Masing-masing dicukur dengan model rambut yang diinginkan. Misalnya model potongan Mandarin atau potongan yang tidak terlalu pendek adalah potongan model ini diminta oleh bapak-bapak yang sudah beruban untuk memudahkan dalam pengecatan rambut. Ada juga model perwira jenis 1-3, maksudnya rambut yang disisakan sepanjang 1 - 3 sentimeter.

(sedang beraksi, mencukur pelanggan, plus bonus angin sepoi-sepoi)

Tak jauh dari lapak milik Udin, terdapat lapak milik Sahabudin yang sudah ditempati sejak tahun 1996. Menurutnya, yang mula-mula mendirikan usaha cukur rambut di lokasi Jalan Mesjid Raya ini adalah ayahnya yang bernama Amin pada awal tahun 80an. Dahulu tempatnya masih belum seteratur sekarang, hanya satu-dua tukang cukur yang mangkal. Jika tukang cukur Madura terkenal karena memiliki tempat sendiri yang berbentuk seperti rumah, maka tukang cukur di sini yang semuanya masih berasal dari satu rumpun keluarga dan sebagian besar dari suatu kabupaten di Makassar ini dikenal dengan nama tukang cukur DPR atau Di bawah Pohon Rindang karena berada tepat di bawah rimbunan dedaunan pohon besar yang menaungi lapak-lapak tersebut.

Sebagian besar tukang cukur DPR ini adalah generasi kedua yang secara otodidak belajar dari ayah atau paman mereka sebelumnya. Setiap hari mereka buka mulai pukul 8 pagi sampai kurang lebih pukul 5 sore. Pelanggan yang datang dari berbagai kalangan seperti supir angkot, kuli bangunan, tentara, polisi, mahasiswa, pelajar, pensiunan, dan sebagainya. Tak jauh dari lokasi ini terdapat kantor polisi yang juga menjadi pelanggan tetap mereka. Bahkan, sejak lima tahun lalu, setiap bulan Maret dan November dimana masa pendidikan calon polisi di SPN Batua digelar, beberapa tukang cukur DPR ini dipanggil untuk mencukur rambut calon polisi tersebut dan mereka dibayar perbulannya sesuai jumlah kepala yang dicukur.

(jejeran tukang cukur)

(bisa juga dibaca disini )

Posted at 07:58 pm by dejablue
Foot Prints  

Wednesday, June 20, 2007
Makassar, kota sejuta cakar..!!



-salah satu sudut di lokasi cakar-
Toddopuli, 20 Juni 2007


    Suasana tampak mulai sepi. Beberapa penjaga toko mulai berbenah dan merapikan gantungan-gantungan baju yang sebagian besar pakaian dari Korea. Nampak warna-warni mencolok mata. Ada juga yang mengkhususkan diri menjual pakaian renang, baju kaos, jaket, celana jeans, sepatu, tas, bahkan seprai.
    Untuk baju kaos oblong berkisar antara lima ribu sampai sepuluh ribu rupiah. Pakaian renang mulai dari harga sepuluh ribu sampai dengan dua puluh lima ribu rupiah. Untuk baju Korea harganya cukup mahal, sekitar lima puluh ribu rupiah sepotongnya. Itu masih harus dipermak lagi di tukang jahit menjadi kebaya modern atau celana panjang.
    Harga-harga tersebut di atas masih bisa lebih murah lagi, tergantung dari kepiawaian anda menawarnya. Bahkan di tempat-tempat tertentu seperti di pasar-pasar ada yang menawarkan dengan harga seribu rupiah saja untuk sepotong kemeja kerja dengan model dan kondisi yang bagus.
    Tentu saja untuk harga semurah itu tak didapatkan di Mal atau pusat perbelanjaan dengan ACnya yang dingin tetapi di tempat yang disebut dengan "Cakar", kependekan dari cap karung. Disebut cap karung karena barang-barang tersebut sebelumnya dimasukkan ke dalam karung-karung atau biasa disebut bal. Barang yang datang pun memiliki jadwal tetap dan untuk setiap barang yang baru tiba dan langsung digelar disebut dengan 'buka baru'. Kebanyakan pakaian atau barang-barang tersebut berasal dari negara-negara Asia, sebagian besar adalah bekas pakai. Namun jangan keburu melirik sebelah mata dengan cakar. Banyaknya lokasi cakar di Makassar menunjukkan minat masyarakat terhadap barang second ini cukup tinggi. Bukan hanya dari kalangan bawah, bahkan banyak juga masyarakat yang termasuk dalam kalangan menengah keatas yang tampak tengah berburu Cakar. Deretan mobil dan motor yang terparkir setiap harinya membuktikan bahwa cakar sudah menjadi salah satu fenomena tersendiri bagi masyarakat kota Makassar, utamanya kaum muda yang ingin tetap tampil trendi dengan harga terjangkau. Kalau dahulu orang masih malu-malu mengakui pakaian yang dipakai adalah cakar, sekarang banyak yang dengan bangganya menyebut dirinya dengan ABC atau atas-bawah cakar.
    Inilah salah satu yang selalu mengingatkan saya pada Makassar selain tentu saja coto Makassarnya yang terkenal itu. Mungkin tak salah bila Makassar selain disebut dengan kota sejuta pete-pete (angkutan umum) dan kota sejuta ruko (rumah-toko), juga bisa diidentikkan dengan kota sejuta Cakar...

Posted at 08:44 pm by dejablue
Comments (6)  

Tuesday, June 19, 2007
BANJIR KENANGAN

: lys

aku benci hujan
mengingatkanku pada kesepian
seperti lou han berenang sendirian
               dingin menahan tangisan

aku lalu memaki ingatan
yang tak pernah bisa menghalau kerinduan
mengalir cecerannya jadi genangan
                   hari ini banjir kenangan


(Mks, Juni 2007)

Posted at 04:26 pm by dejablue
Foot Prints  

JANJI

1/
Dahulu engkau janjikan untukku
sebuah rumah kardus berwarna biru
untuk tempat kita berbulan madu
dan menghasilkan anak yang lucu-lucu

2/
aku menamainya dengan hati
meski tak selalu terikat rapi
disudut-sudut tlah terpatri pasti
puisi-puisi sehidup semati

3/
di jalan setapak tak berjejak
dedaun layu berserak-serak
kenangan terkepak kotak
impian tak lagi berpijak

4/
malaikat menyanyikan lagu kematian
engkau memaksa menyebutnya perpisahan
tetapi bagiku itu adalah pengkhianatan
yang dihujamkan perlahan-lahan


(Mks, Juni 2007)

Posted at 03:28 pm by dejablue
Comments (2)  

Thursday, June 14, 2007
...???....

Pagi tadi aku bertanya pada hujan yang malu-malu menyapa
" akankah senja melupakan janji dan memilih lari? "
setelah letih memaki matahari dan bosan mencibir langit
tiba-tiba mengirim badai tanpa permisi esok hari.

.............................................................................................

( It's not a life if it isn't full of surprises )

Can't hardly wait for another surprises

                             

Posted at 06:01 pm by dejablue
Foot Prints  

Wednesday, May 02, 2007
Sepasang Sandal Kekasih

hampir semua sudut sudah kuhampiri
tapi tak satupun juga bisa kudapati
yang telah lama kucari-cari
sepasang sandal hitam milik kekasih

sudah butut namun terasa lembut
dahulu berdiri gagah di bawah tangga
penuh dedebu rak sepatu
pemberi tanda pemilik ada

setiap hari aku akan kembali
sampai dia kutemukan lagi
meski harus menanti
sampai mati




Posted at 02:13 pm by dejablue
Foot Prints  

Monday, April 23, 2007
Serenity Prayer

Seringkali saya lupa

Tuhan bekerja dengan caraNya

Sesuai pada waktunya

Doa ini selalu menjadi pengingat

Untuk tak letih berharap.





THE SERENITY PRAYER

God, grant me the serenity
to accept the things I cannot change;
courage to change the things I can;
and wisdom to know the difference.

Living one day at a time;
Enjoying one moment at a time;
Accepting hardships as the pathway to peace;
Taking, as He did, this sinful world
as it is, not as I would have it;
Trusting that He will make all things right
if I surrender to His Will;
That I may be reasonably happy in this life
and supremely happy with Him
Forever in the next.
Amen.

--Reinhold Niebuhr

Posted at 07:23 pm by dejablue
Comments (2)  

Tuesday, March 13, 2007
Menikah !!

Life is so unpredictable
Life is amazing...!!!

A friend of mine will get marry at this end of March..
So happy for him

Kak Ary and Mellanie... life has just began...  life means up and down, so wish you both a very happy up and down in marriage...!!! Happy for you !!


ps :
They will get marry in March 31th 2007
Vermont, USA


Posted at 10:48 am by dejablue
Comment (1)  

Thursday, March 08, 2007
Sekali ini saja

: JSW

sekali ini saja pintaku
seperti dahulu senja dan pagi merindu
juga engkau memaafkan aku

Posted at 09:17 am by dejablue
Foot Prints  

Monday, March 05, 2007
melintas senja

: elya

selalu saja indah

menatap senja yang melintas
walau mungkin ia lupa
untuk sejenak menyapa
meski sekilas

ps : rindu

Posted at 04:03 pm by dejablue
Comments (2)  

Next Page