[Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket]






dejablue
GOD has made everything beautiful in its time..!!
Myspace Layouts, Myspace Graphics, & More!
Click here to make Falling Objects Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Glitter Text @ Glitterfy.com
   

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket


MusicPlaylist

<< July 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31

myspace comments
More eComments banner angingmammiri
Widget_logo

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, July 26, 2007
Masuk TK Berjuta Harganya !!



(beberapa brosur Playgroup dan TK)

Tak terasa libur sekolah telah usai. Tahun ajaran baru sudah dimulai. Masa panik sebagian besar orang tua yang tengah mencarikan sekolah untuk anak-anaknya berakhir juga. Selama kurang lebih sebulan ini para orang tua sibuk kesana-kemari mencari sekolah yang dianggap mampu mencerdaskan dan mendisiplinkan anak-anaknya. Keinginan mendapatkan jaminan kesejahteraan yang memadai bagi keluarga dengan berbagai kesibukan di tempat kerja menjadikan mereka
mempercayakan sepenuhnya pendidikan dan perkembangan anak-anaknya kepada guru-guru di sekolah.

Tak jarang mereka rela merogoh kocek dalam-dalam agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan terbaik sesuai metode pembelajaran yang saat ini tengah menjadi tren. Tingkat pendidikan para orang tua generasi sekarang yang rata-rata lulusan perguruan tinggi yang diiringi semakin mudahnya mendapatkan informasi mengenai perkembangan dunia pendidikan, membuat mereka ingin memberikan pendidikan yang terbaik bagi putra-putrinya sejak dini, agar dapat menjadi anak-anak yang diinginkan. Munculnya berbagai teori pendidikan dan metode pembelajaran yang dianggap lebih baik dari sebelumnya inilah yang kemudian menjadi tren dan sebagai lahan bisnis yang empuk bagi sekolah-sekolah yang bersaing mengklaim diri sebagai tempat terbaik untuk pendidikan anak.

Saya ikut membantu seorang kawan mencari informasi sekolah taman kanak-kanak bagi anaknya yang berusia 4 tahun. “ Tolong carikan ka’ nah sekolah yang bisa bikin anakku pintar membaca, berhitung, menulis, bisa bahasa Inggris, banyak kegiatan outdoor-nya dan yang lengkap fasilitasnya. “ Belum sempat saya berkomentar, kawan tadi kemudian melanjutkan permintaannya yang menjurus kearah perintah tak terbantahkan. “ Jangan lupa yang guru-gurunya terlatih, ramah, metode pengajarannya yang terbaru dan pastinya berstandar internasional. “
Sebagai seorang yang cukup mahfum dengan kesibukan kawan tersebut di kantornya yang menyita hampir sebagian besar waktunya sebagai ibu rumah tangga, saya lalu menyempatkan diri berkeliling kota Makassar mencarikan sekolah yang dimaksud. Sebenarnya cukup mudah mendapatkan informasi sekolah dengan berbagai kelebihan tersebut. Di sebuah koran lokal, hampir setiap hari sejak sebulanan terakhir pada rubrik society yang berisi cerita foto, nyaris semuanya memuat kegiatan perpisahan dan program-program yang dilakukan oleh TK-TK yang ada di kota Makassar ini. Belum lagi melalui iklan-iklan, baik di media cetak, spanduk-spanduk, brosur-brosur yang dibagikan atau dari pameran-pameran pendidikan yang diadakan di pusat perbelanjaan.

Tapi saya memilih untuk mendatangi langsung dan bercakap-cakap dengan pengelola sekolah-sekolah tersebut, mulai dari yang kelas lokalan sampai yang berstandar internasional seperti yang diinginkan kawan saya.

Tak mungkin murah!
Biayanya pasti tak murah! Ini yang pertama kali terlintas dibenak saya setelah usai mengumpulkan beberapa informasi sekolah-sekolah. Bayangkan saja, di sebuah sekolah berstandar internasional yang menyatakan sebagai tempat ideal untuk mendidik anak, yang terletak di sebuah kompleks bisnis di kawasan Panakukang, mereka mematok biaya uang pangkal sebesar Rp2.000.000, uang peralatan sekolah juga sebesar Rp2.000.000, uang seragam bagi kelas playgroup sebesar Rp100.000 dan untuk kelas kindergarten atau Taman Kanak-kanak sebesar Rp300.000.
Ini belum termasuk uang sekolah per bulannya yang juga berbeda. Untuk kelas playgroup dibedakan sesuai bahasa pengantar yang digunakan. Jika menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar maka biayanya Rp450.000. Jika memakai bahasa Mandarin sebagai pengantar, biayanya lebih murah sedikit yakni sebesar Rp400.000. Dan tentu saja akan lebih murah lagi jika bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia, hanya sebesar Rp350.000. Bagaimana dengan kelas kindergarten-nya? Karena di kelas ini bahasa pengantar yang digunakan ketiganya, maka uang sekolahnya lebih besar yaitu Rp500.000 perbulan. Jadi, jika kawan saya hendak menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut pada kelas kindergarten, maka dia mesti membayar total keseluruhan sebanyak Rp9.300.000 termasuk uang sekolah setiap bulan selama 10 bulan. Lalu saya pindah ke sekolah lain yang juga berstandar internasional yang namanya sesuai dengan jenis metode pembelajaran yang mereka gunakan. Di sekolah yang berlokasi di perumahan terkenal di seputaran Jalan A.P. Pettarani ini, tak begitu jauh beda kisaran biayanya. Untuk uang pangkal mereka memasang biaya Rp2.500.000 bagi semua tingkatan, mulai dari playgroup, nursery, kindergarten 1 dan kindergarten 2. Yang membedakan hanya uang sekolah per bulannya saja. Untuk kelas playgroup mesti membayar sebesar Rp300.000, kelas nursery sebesar Rp400.000, kelas kindergarten 1 sebesar Rp500.000 dan kindergarten 2 sebesar Rp600.000. Harga tersebut sudah termasuk dengan bonus 1 tas dan 3 pasang seragam.

Di sekolah lain di Jalan Ratulangi yang mengelola sistem pendidikan yang moderen dan agamais, untuk uang pangkalnya ditetapkan sebesar Rp3.850.000 termasuk fasilitas gedung, alat bermain dan edukasi serta seragam bagi semua tingkatan. Uang sekolah perbulannya untuk playgroup dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar sebesar Rp200.000, playgroup berbahasa pengantar Inggris sebesar Rp350.000 dan kelas TK yang menggunakan sistem bilingual biayanya juga sebesar Rp350.000.

Oleh seorang kawan yang lain saya diberitahu bahwa ada sekolah yang baru dibuka di Jalan Pengayoman dan menawarkan konsep pendidikan keagamaan yang kental. Dalam hati saya berpikir tak ada salahnya mencari tahu meskipun permintaan kawan sebelumnya tidak ada pesan dicarikan sekolah yang bisa mengajarkan anaknya lebih agamais dan rajin sembahyang. Dan seperti yang saya sudah duga, untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu tentunya harganya juga bermutu. Walau sedikit lebih rendah dari sekolah sebelumnya, di brosur tertera uang pangkal untuk kelompok bermain sebesar Rp2.500.000, paket seragam Rp150.000, iuran sebesar Rp100.000 dan uang sekolah per bulan sebesar Rp200.000. Untuk kelas TK, uang pangkalnya sebesar Rp2.000.000, paket seragam sebesar Rp250.000, iuran sebesar Rp100.000 dan uang sekolah perbulannya Rp250.000.

Sebenarnya masih ada beberapa sekolah lagi yang berstandar internasional yang diberitahukan kepada saya, seperti yang ada di Jalan Mesjid Raya, Jalan Gunung Latimojong, Jalan Sungai Saddang, Kompleks Azalea, kawasan GTC, dan di Jalan Pattimura. Masing-masing sekolah menawarkan konsep yang kurang lebih sama, membuat anak didik bermasa depan cerah, para guru yang lebih fokus pada anak, kurikulum yang meningkatkan kecerdasan IQ, EQ dan SQ, mengasah kreativitas anak dan masih banyak lagi.

Di sekolah berstandar internasional, bagi orang tua yang paling awal mendaftarkan anaknya bisa mendapat potongan harga sampai dengan 50 persen dan biaya juga dapat diangsur. Fasilitas yang ditawarkan adalah kelas yang nyaman dan ber-AC, perpustakaan, kelas berenang, kelas seni, kegiatan outdoor dan outbound, pemeriksaan kesehatan berkala, buku panduan dari luar negeri, multimedia komputer, kolam pasir, makanan sehat dan bergizi, tenaga pengajar yang berkualitas lulusan universitas terkenal di dalam dan luar negeri yang biasa dipanggil Miss atau Uncle, dan masih banyak lagi. Tentunya bagi orang tua yang memiliki penghasilan cukup besar, biaya besar tak menjadi masalah. Bahkan biaya-biaya susulan seperti biaya memperingati hari Kartini, memperingati hari Bumi, berkunjung ke kantor pos, bermain di sawah dan sebagainya dianggap wajar saja sepanjang anak-anak mereka bisa berpartisipasi dan mendapat banyak pengalaman. Rupanya di jaman menjamurnya mal seperti sekarang, untuk bermain pasir, atau sekedar melihat sawah anak-anak mesti membayar dahulu. Saya lantas merasa bersyukur sewaktu kecil dahulu masih banyak sawah dan pepohonan sebagai tempat bermain yang gratis setiap saat.

Dan meskipun kawan saya hanya meminta dicarikan sekolah yang berstandar internasional, tetap saja saya mencarikan informasi sekolah-sekolah yang menurut kawan saya yang lain berkategori ‘biasa-biasa’ saja karena terletak bukan di gedung mewah, tak mempunyai bilingual class, tak ada sarana bermain yang luas dan guru-guru yang rata-rata cukup berumur dengan latar belakang pendidikan spesialis guru taman kanak-kanak. Ada tiga sekolah yang sempat saya datangi dan memang biaya masuknya lebih murah dibandingkan sekolah berstandar internasional tadi. Di sekolah yang terletak di belakang SD IKIP, uang pangkal untuk TK A sebesar Rp1.350.000, TK B sebesar Rp1.250.000, termasuk 3 pasang seragam dan uang sekolah masing-masing perbulan sebesar Rp75.000.

Dua sekolah lainnya di sekitar Jalan Tamalate dan Jalan Perintis Kemerdekaan, besaran biayanya juga antara Rp1.000.000 – Rp1.500.000 dengan uang sekolah antara Rp75.000 – Rp100.000 setiap bulan.


Sekolah mahal jalan keluar?
Baru-baru ini seorang ibu tetangga saya mengeluhkan anaknya yang belum juga bisa membaca dan khawatir tak bisa lulus tes masuk SD. Ia rela membayar tinggi agar anaknya bisa segera membaca meskipun gaji suaminya tergolong pas-pasan Menurutnya anaknya lebih suka bermain-main di TK daripada belajar membaca dan mengerjakan pekerjaan rumah. Padahal ia merasa sekolah yang dipilihnya sudah cukup bagus.

Saya lalu membayangkan betapa sibuknya anak-anak TK saat ini dengan berbagai kegiatan dan tugas. Bukankah menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun oleh W.J.S. Poerwadarminta, kata taman itu berarti tempat yang menyenangkan dan membahagiakan? Jadi, taman kanak-kanak mestinya berarti tempat yang menyenangkan dan membahagiakan bagi anak-anak, jadi jika mereka lebih senang bermain tak perlu dilarang.

Saya teringat sebuah artikel di harian Kompas tanggal 7 Juli lalu yang ditulis oleh Daoed Joesoef, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan. Daoed Joesoef menulis, di Jepang ada istilah Kyoiku Mama atau education mama yakni para ibu dengan pendidikan baik dan pengetahuan cukup, yang bertanggung jawab dan berperan besar atas pendidikan anak-anak. Jika di Barat seorang perempuan berpendidikan akademis yang hanya tinggal di rumah membesarkan anak dianggap sebagai membuang waktu percuma, maka di Jepang mereka percaya seorang ibu seharusnya berpendidikan dan memiliki pengetahuan yang baik untuk memenuhi tugasnya sebagai pendidik anak. Jika ada yang bekerja, biasanya hanya paruh waktu agar bisa berada di rumah saat anak pulang sekolah dan membantu mereka dengan pelajarannya dan meluangkan waktu lebih banyak menemani berkegiatan.

Mungkin ini yang sering dilupakan para orang tua. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan, baik itu pekerjaan domestik maupun kantoran, kegiatan-kegiatan sosial dan sebagainya sehingga melupakan peran penting yang menjadi tanggung jawab mereka mendidik anak. Bukan berarti dengan mendapatkan sekolah yang memiliki metode pendidikan terkini, fasilitas lengkap dan tenaga pengajar berkualitas, menjadi lepas pula tugas orang tua terhadap pendidikan anak. Bukankah mestinya yang paling paham perasaan anak adalah orang tuanya sendiri?

Jangan sampai kita hanya menghambur-hamburkan uang padahal anak-anak tak bahagia dengan lingkungannya. Sekolah mahal bukan solusi mutlak mendidik anak menjadi cerdas dan berkarakter.

Besok anak kawan saya sudah mulai masuk sekolah. Semoga saja tujuan yang tertulis di brosur sekolah yang dipilihnya, benar-benar bisa terlaksana dan kawan saya itu tidak sekadar menjadi korban komersialisasi pendidikan.

Bisa dilihat juga disini

Posted at 02:26 pm by dejablue

amah
August 25, 2007   11:26 PM PDT
 
Sekedar wacana ?
Gw, doeloe jaman baheula, sekolah biasa2 bngt, belajar g dforsir justru bikin 'elmu' tuh nyangkut.
Kesian klo ngeliat youngster these days, stress di usia muda.
Tp, mdh2n gw yg salah...
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry