(beberapa brosur Playgroup dan TK)Tak terasa libur sekolah telah usai. Tahun ajaran baru sudah dimulai. Masa panik sebagian besar orang tua yang
tengah mencarikan sekolah untuk anak-anaknya berakhir juga. Selama kurang lebih sebulan ini para orang tua sibuk
kesana-kemari mencari sekolah yang dianggap mampu mencerdaskan dan
mendisiplinkan anak-anaknya. Keinginan mendapatkan jaminan
kesejahteraan yang memadai bagi keluarga dengan berbagai kesibukan di
tempat kerja menjadikan mereka
mempercayakan sepenuhnya pendidikan dan
perkembangan anak-anaknya kepada guru-guru di sekolah.
Tak jarang mereka rela merogoh kocek dalam-dalam agar anak-anaknya
mendapatkan pendidikan terbaik sesuai metode pembelajaran yang saat ini
tengah menjadi tren. Tingkat pendidikan para orang tua generasi
sekarang yang rata-rata lulusan perguruan tinggi yang diiringi semakin
mudahnya mendapatkan informasi mengenai perkembangan dunia pendidikan,
membuat mereka ingin memberikan pendidikan yang terbaik bagi
putra-putrinya sejak dini, agar dapat menjadi anak-anak yang
diinginkan. Munculnya berbagai teori pendidikan dan metode pembelajaran
yang dianggap lebih baik dari sebelumnya inilah yang kemudian menjadi
tren dan sebagai lahan bisnis yang empuk bagi sekolah-sekolah yang
bersaing mengklaim diri sebagai tempat terbaik untuk pendidikan anak.
Saya ikut membantu seorang kawan mencari informasi sekolah taman
kanak-kanak bagi anaknya yang berusia 4 tahun. “ Tolong carikan ka’ nah
sekolah yang bisa bikin anakku pintar membaca, berhitung, menulis, bisa
bahasa Inggris, banyak kegiatan outdoor-nya dan yang lengkap
fasilitasnya. “ Belum sempat saya berkomentar, kawan tadi kemudian
melanjutkan permintaannya yang menjurus kearah perintah tak
terbantahkan. “ Jangan lupa yang guru-gurunya terlatih, ramah, metode
pengajarannya yang terbaru dan pastinya berstandar internasional. “
Sebagai seorang yang cukup mahfum dengan kesibukan kawan tersebut
di kantornya yang menyita hampir sebagian besar waktunya sebagai ibu
rumah tangga, saya lalu menyempatkan diri berkeliling kota Makassar
mencarikan sekolah yang dimaksud. Sebenarnya cukup mudah mendapatkan
informasi sekolah dengan berbagai kelebihan tersebut. Di sebuah koran
lokal, hampir setiap hari sejak sebulanan terakhir pada rubrik
society
yang berisi cerita foto, nyaris semuanya memuat kegiatan perpisahan dan
program-program yang dilakukan oleh TK-TK yang ada di kota Makassar
ini. Belum lagi melalui iklan-iklan, baik di media cetak,
spanduk-spanduk, brosur-brosur yang dibagikan atau dari pameran-pameran
pendidikan yang diadakan di pusat perbelanjaan.
Tapi saya memilih untuk mendatangi langsung dan bercakap-cakap
dengan pengelola sekolah-sekolah tersebut, mulai dari yang kelas
lokalan sampai yang berstandar internasional seperti yang diinginkan
kawan saya.
Tak mungkin murah!
Biayanya pasti tak murah! Ini yang pertama kali terlintas dibenak
saya setelah usai mengumpulkan beberapa informasi sekolah-sekolah.
Bayangkan saja, di sebuah sekolah berstandar internasional yang
menyatakan sebagai tempat ideal untuk mendidik anak, yang terletak di
sebuah kompleks bisnis di kawasan Panakukang, mereka mematok biaya uang
pangkal sebesar Rp2.000.000, uang peralatan sekolah juga sebesar
Rp2.000.000, uang seragam bagi kelas
playgroup sebesar Rp100.000 dan untuk kelas
kindergarten atau Taman Kanak-kanak sebesar Rp300.000.
Ini belum termasuk uang sekolah per bulannya yang juga berbeda.
Untuk kelas playgroup dibedakan sesuai bahasa pengantar yang digunakan.
Jika menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar maka biayanya
Rp450.000. Jika memakai bahasa Mandarin sebagai pengantar, biayanya
lebih murah sedikit yakni sebesar Rp400.000. Dan tentu saja akan lebih
murah lagi jika bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia, hanya
sebesar Rp350.000. Bagaimana dengan kelas kindergarten-nya? Karena di
kelas ini bahasa pengantar yang digunakan ketiganya, maka uang
sekolahnya lebih besar yaitu Rp500.000 perbulan. Jadi, jika kawan saya
hendak menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut pada kelas
kindergarten, maka dia mesti membayar total keseluruhan sebanyak
Rp9.300.000 termasuk uang sekolah setiap bulan selama 10 bulan. Lalu
saya pindah ke sekolah lain yang juga berstandar internasional yang
namanya sesuai dengan jenis metode pembelajaran yang mereka gunakan. Di
sekolah yang berlokasi di perumahan terkenal di seputaran Jalan A.P.
Pettarani ini, tak begitu jauh beda kisaran biayanya. Untuk uang
pangkal mereka memasang biaya Rp2.500.000 bagi semua tingkatan, mulai
dari playgroup, nursery, kindergarten 1 dan kindergarten 2. Yang
membedakan hanya uang sekolah per bulannya saja. Untuk kelas playgroup
mesti membayar sebesar Rp300.000, kelas nursery sebesar Rp400.000,
kelas kindergarten 1 sebesar Rp500.000 dan kindergarten 2 sebesar
Rp600.000. Harga tersebut sudah termasuk dengan bonus 1 tas dan 3
pasang seragam.
Di sekolah lain di Jalan Ratulangi yang mengelola sistem pendidikan
yang moderen dan agamais, untuk uang pangkalnya ditetapkan sebesar
Rp3.850.000 termasuk fasilitas gedung, alat bermain dan edukasi serta
seragam bagi semua tingkatan. Uang sekolah perbulannya untuk playgroup
dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar sebesar Rp200.000,
playgroup berbahasa pengantar Inggris sebesar Rp350.000 dan kelas TK
yang menggunakan sistem
bilingual biayanya juga sebesar Rp350.000.
Oleh seorang kawan yang lain saya diberitahu bahwa ada sekolah yang
baru dibuka di Jalan Pengayoman dan menawarkan konsep pendidikan
keagamaan yang kental. Dalam hati saya berpikir tak ada salahnya
mencari tahu meskipun permintaan kawan sebelumnya tidak ada pesan
dicarikan sekolah yang bisa mengajarkan anaknya lebih agamais dan rajin
sembahyang. Dan seperti yang saya sudah duga, untuk mendapatkan
pendidikan yang bermutu tentunya harganya juga bermutu. Walau sedikit
lebih rendah dari sekolah sebelumnya, di brosur tertera uang pangkal
untuk kelompok bermain sebesar Rp2.500.000, paket seragam Rp150.000,
iuran sebesar Rp100.000 dan uang sekolah per bulan sebesar Rp200.000.
Untuk kelas TK, uang pangkalnya sebesar Rp2.000.000, paket seragam
sebesar Rp250.000, iuran sebesar Rp100.000 dan uang sekolah perbulannya
Rp250.000.
Sebenarnya masih ada beberapa sekolah lagi yang berstandar
internasional yang diberitahukan kepada saya, seperti yang ada di Jalan
Mesjid Raya, Jalan Gunung Latimojong, Jalan Sungai Saddang, Kompleks
Azalea, kawasan GTC, dan di Jalan Pattimura. Masing-masing sekolah
menawarkan konsep yang kurang lebih sama, membuat anak didik bermasa
depan cerah, para guru yang lebih fokus pada anak, kurikulum yang
meningkatkan kecerdasan IQ, EQ dan SQ, mengasah kreativitas anak dan
masih banyak lagi.
Di sekolah berstandar internasional, bagi orang tua yang paling
awal mendaftarkan anaknya bisa mendapat potongan harga sampai dengan 50
persen dan biaya juga dapat diangsur. Fasilitas yang ditawarkan adalah
kelas yang nyaman dan ber-AC, perpustakaan, kelas berenang, kelas seni,
kegiatan
outdoor dan
outbound, pemeriksaan kesehatan
berkala, buku panduan dari luar negeri, multimedia komputer, kolam
pasir, makanan sehat dan bergizi, tenaga pengajar yang berkualitas
lulusan universitas terkenal di dalam dan luar negeri yang biasa
dipanggil
Miss atau
Uncle, dan masih banyak lagi.
Tentunya bagi orang tua yang memiliki penghasilan cukup besar, biaya
besar tak menjadi masalah. Bahkan biaya-biaya susulan seperti biaya
memperingati hari Kartini, memperingati hari Bumi, berkunjung ke kantor
pos, bermain di sawah dan sebagainya dianggap wajar saja sepanjang
anak-anak mereka bisa berpartisipasi dan mendapat banyak pengalaman.
Rupanya di jaman menjamurnya mal seperti sekarang, untuk bermain pasir,
atau sekedar melihat sawah anak-anak mesti membayar dahulu. Saya lantas
merasa bersyukur sewaktu kecil dahulu masih banyak sawah dan pepohonan
sebagai tempat bermain yang gratis setiap saat.
Dan meskipun kawan saya hanya meminta dicarikan sekolah yang
berstandar internasional, tetap saja saya mencarikan informasi
sekolah-sekolah yang menurut kawan saya yang lain berkategori
‘biasa-biasa’ saja karena terletak bukan di gedung mewah, tak mempunyai
bilingual class, tak ada sarana bermain yang luas dan guru-guru
yang rata-rata cukup berumur dengan latar belakang pendidikan spesialis
guru taman kanak-kanak. Ada tiga sekolah yang sempat saya datangi dan
memang biaya masuknya lebih murah dibandingkan sekolah berstandar
internasional tadi. Di sekolah yang terletak di belakang SD IKIP, uang
pangkal untuk TK A sebesar Rp1.350.000, TK B sebesar Rp1.250.000,
termasuk 3 pasang seragam dan uang sekolah masing-masing perbulan
sebesar Rp75.000.
Dua sekolah lainnya di sekitar Jalan Tamalate dan Jalan Perintis
Kemerdekaan, besaran biayanya juga antara Rp1.000.000 – Rp1.500.000
dengan uang sekolah antara Rp75.000 – Rp100.000 setiap bulan.
Sekolah mahal jalan keluar?
Baru-baru ini seorang ibu tetangga saya mengeluhkan anaknya yang
belum juga bisa membaca dan khawatir tak bisa lulus tes masuk SD. Ia
rela membayar tinggi agar anaknya bisa segera membaca meskipun gaji
suaminya tergolong pas-pasan Menurutnya anaknya lebih suka bermain-main
di TK daripada belajar membaca dan mengerjakan pekerjaan rumah. Padahal
ia merasa sekolah yang dipilihnya sudah cukup bagus.
Saya lalu membayangkan betapa sibuknya anak-anak TK saat ini dengan
berbagai kegiatan dan tugas. Bukankah menurut Kamus Umum Bahasa
Indonesia yang disusun oleh W.J.S. Poerwadarminta, kata taman itu
berarti tempat yang menyenangkan dan membahagiakan? Jadi, taman
kanak-kanak mestinya berarti tempat yang menyenangkan dan membahagiakan
bagi anak-anak, jadi jika mereka lebih senang bermain tak perlu
dilarang.
Saya teringat sebuah artikel di harian Kompas tanggal 7 Juli lalu
yang ditulis oleh Daoed Joesoef, mantan menteri pendidikan dan
kebudayaan. Daoed Joesoef menulis, di Jepang ada istilah
Kyoiku Mama atau
education mama
yakni para ibu dengan pendidikan baik dan pengetahuan cukup, yang
bertanggung jawab dan berperan besar atas pendidikan anak-anak. Jika di
Barat seorang perempuan berpendidikan akademis yang hanya tinggal di
rumah membesarkan anak dianggap sebagai membuang waktu percuma, maka di
Jepang mereka percaya seorang ibu seharusnya berpendidikan dan memiliki
pengetahuan yang baik untuk memenuhi tugasnya sebagai pendidik anak.
Jika ada yang bekerja, biasanya hanya paruh waktu agar bisa berada di
rumah saat anak pulang sekolah dan membantu mereka dengan pelajarannya
dan meluangkan waktu lebih banyak menemani berkegiatan.
Mungkin ini yang sering dilupakan para orang tua. Mereka terlalu
sibuk dengan pekerjaan, baik itu pekerjaan domestik maupun kantoran,
kegiatan-kegiatan sosial dan sebagainya sehingga melupakan peran
penting yang menjadi tanggung jawab mereka mendidik anak. Bukan berarti
dengan mendapatkan sekolah yang memiliki metode pendidikan terkini,
fasilitas lengkap dan tenaga pengajar berkualitas, menjadi lepas pula
tugas orang tua terhadap pendidikan anak. Bukankah mestinya yang paling
paham perasaan anak adalah orang tuanya sendiri?
Jangan sampai kita hanya menghambur-hamburkan uang padahal
anak-anak tak bahagia dengan lingkungannya. Sekolah mahal bukan solusi
mutlak mendidik anak menjadi cerdas dan berkarakter.
Besok anak kawan saya sudah mulai masuk sekolah. Semoga saja tujuan
yang tertulis di brosur sekolah yang dipilihnya, benar-benar bisa
terlaksana dan kawan saya itu tidak sekadar menjadi korban
komersialisasi pendidikan.
Bisa dilihat juga
disini