1/
Dahulu engkau janjikan untukku
sebuah rumah kardus berwarna biru
untuk tempat kita berbulan madu
dan menghasilkan anak yang lucu-lucu
2/
aku menamainya dengan hati
meski tak selalu terikat rapi
disudut-sudut tlah terpatri pasti
puisi-puisi sehidup semati
3/
di jalan setapak tak berjejak
dedaun layu berserak-serak
kenangan terkepak kotak
impian tak lagi berpijak
4/
malaikat menyanyikan lagu kematian
engkau memaksa menyebutnya perpisahan
tetapi bagiku itu adalah pengkhianatan
yang dihujamkan perlahan-lahan
(Mks, Juni 2007)
Posted at 03:28 pm by
dejablue
 |  |  |
Dawud Lumbuq July 7, 2007 03:06 AM PDT
Terima kasih atas rekayasa debat malam tentang MLM yang seru.
Plak….plakk..plakkk..(applause panjang)
Sa tambah kagum sama qta. Mampu merekayasa perdebatan seru. Hebat.. Perdebatan yang cukup menggetarkan. Hampir q bikin berkelahi orang. Banyak orang hanyut terpancing. Ck..ck…hebat (applause panjang) memancing dan terlibat perdebatan dengan serius, padahal qta hanya bersandiwara. (luarrr biassaa…) Orang di sekeliling anggap q kontra, dengan tegas kontra, lantas setelah perdebatan usai dengan cerdik qta bisa cuci tangan dengan aman dengan bilang: “Lho, saya kan cuma merekayasa ji. Tak benar-benar bermaksud kontra, gitchu loh?!”
Lantas orang di sekeliling mafhum, maklum.
Wah…hebat, saya harus banyak belajar.
Eh, tapi itu termasuk cerdik ato licik ya?
|
 |

 |  |  |
soeltra July 1, 2007 01:26 AM PDT
so sweeettt...so deep...nice poem sista' |
 |