[Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket]






dejablue
GOD has made everything beautiful in its time..!!
Myspace Layouts, Myspace Graphics, & More!
Click here to make Falling Objects Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Glitter Text @ Glitterfy.com
   

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket


MusicPlaylist

<< March 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31

myspace comments
More eComments banner angingmammiri
Widget_logo

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, March 01, 2007
Bersepeda bersama Losari Cycling Community




Berkumpul di Pantai Losari, depan rumah jabatan walikota Makassar


Hari itu, 18 Februari 2007, cuaca agak mendung, suhu masih terasa cukup dingin dan gerimis sesekali jatuh. Saya bersama dua kawan dari Kanada, Julie dan Sofie, baru saja tiba di depan rumah jabatan walikota Makassar. Tempat ini menjadi lokasi berkumpulnya anggota komunitas sepeda gunung yang akan menemani kami berkeliling sambil melihat-lihat aktivitas pagi hari di Pantai Losari. Komunitas ini bersiap mengukuhkan diri dengan nama, Losari Cycling Community (LCC). Mereka mempunyai dua titik pertemuan: di depan rumah jabatan walikota dan depan gedung DPRD Makassar di Jalan Hertasning. Para anggota LCC berkumpul di salah satu tempat ini, tergantung rute mana yang akan ditempuh.

Hari sebelumnya kami telah bertemu dengan salah seorang penggiat komunitas sepeda ini, A. Mappaware Nuhung. Ia mengajak kami ikut dalam rute pendek dan bersedia meminjamkan sepedanya untuk kami gunakan. Namun karena hanya ada dua sepeda tersedia, maka Sofie memilih berjalan-jalan mengitari pantai dan berjanji bertemu beberapa jam kemudian di tempat semula.

Sambil menunggu anggota lain yang akan bergabung, saya, Julie dan Pak Mappaware melakukan pemanasan sambil mencoba sepeda. Aroma makanan yang tercium di sepanjang trotoar Jalan Penghibur membuat perut keroncongan. Kami lalu memilih salah satu meja kosong dan memesan masing-masing semangkuk bubur ayam. Perut yang sudah terisi dan udara segar membuat kami bersemangat segera memulai perjalanan bersepeda. Rute yang akan ditempuh adalah yang paling mudah dan singkat, karena saya dan Julie memang belum berpengalaman mengendarai sepeda dengan jarak cukup jauh.

Dimulai dengan menyusuri Jalan Metro Tanjung Bunga, saya mengayuh sepeda dengan nafas sedikit tersengal-sengal. Julie dan rombongan lain cukup jauh mendahului. Saya mencoba mengejar salah seorang kawan dalam rombongan, bernama Pak Ahmad, pemilik toko sepeda yang terletak di Jalan Veteran. Sudah setahun lebih ia bergabung dengan komunitas ini, namun akrab dengan sepeda sudah cukup lama, sejak masih tinggal di Jakarta.

Menurut Pak Ahmad, tak perlu mendaftarkan diri atau memakai atribut lengkap untuk bergabung. Anggota LCC bisa mengayuh sepeda gunung, sepeda balap atau bahkan sepeda kumbang pun. LCC berkembang dengan cara alamiah, terkadang melalui perjumpaan di jalan dengan sesama pengendara sepeda yang lalu diajak bergabung mengitari rute yang akan dilalui, sambil berbincang-bincang dan bertukar nomor telepon. Seperti yang dialami hari itu, di tengah perjalanan, di depan Rusunawa (Rumah Susun Sederhana Sewa) GTC, kami bertemu dengan seorang pengendara sepeda yang sedang menuju ke arah sama. Oleh Pak Ahmad, ia diajak bergabung. Namanya Pak Rasyid, bekerja di salah satu bank swasta.

Sembari mengayuh sepeda dengan kecepatan sedang, kami melanjutkan perbincangan bertiga. Menurut Pak Ahmad, anggota komunitas sepeda ini terdiri dari berbagai latar belakang. Ada mahasiswa, dokter, pegawai bank, wiraswasta, dan arsitek. Ada yang masih bujang, ada juga yang sudah berkeluarga. Beberapa anggotanya juga tergabung dalam klub sepeda balap yang setiap hari, mulai pukul 5 pagi sampai pukul 6, balapan di Jalan Metro Tanjung Bunga. Bahkan salah seorang anggotanya yang juga seorang dokter di RS Wahidin Sudirohusodo, setiap bertugas jaga selalu menggunakan sepeda dari rumahnya di Jalan Sunu sampai ke rumah sakit. Rupanya anak muda ini juga anggota dari komunitas Bike to Work yang ada di Jakarta.

Tidak ada pengurus resmi komunitas ini dan siapa pencetusnya pun tak jelas. Yang pasti semua anggotanya pecinta olahraga sepeda. Rencananya komunitas ini akan segera diresmikan dengan beberapa program seperti wisata-olahraga, seperti yang kami lakukan hari itu, juga kampanye bike to work. Saya tentu sangat tertarik. Sayangnya, semua anggota yang terdaftar saat ini semuanya laki-laki.




Beristirahat di Benteng Somba Opu

Tak terasa kami telah melewati Jalan Metro Tanjung Bunga dan berbelok melewati SMU Dian Harapan menuju pematang kecil yang menghubungkan dengan perkampungan di sekitar Benteng Somba Opu. Pemandangan indah dan menyegarkan menyambut kami. Deretan sawah menghijau terhampar. Perkampungan terasa hidup dengan suara kanak-kanak bermain dan ibu-ibu yang tengah menawar sayuran yang dijual pagandeng. Sesekali kami mesti melewati genangan air dan lumpur becek. Tadinya saya tak mengira kalau sepeda pun memiliki gear depan dan belakang untuk mengatur laju. Walhasil beberapa kali saya mesti mengayuh dengan susah payah terutama saat berada di tanjakan. Untungnya tak lama kemudian Pak Mappaware menjelaskan fungsi gear dan akhirnya saya bisa dengan mudah melewati jalanan yang tak beraspal dan bergunduk.

Sesampai di Benteng Somba Opu kami beristirahat sejenak, menikmati deretan rumah-rumah adat, dan berfoto. Kami menjelaskan secara singkat arti bangunan rumah adat kepada Julie yang begitu tertarik. Di sekitar kawasan benteng, ada sungai kecil tempat anggota baru komunitas sepeda ini “dilantik”.

Selanjutnya kami mengitari Benteng Somba Opu dan keluar dari tembok belakang yang juga berbatasan dengan perkampungan sekitar Kanal Patompo. Jalur yang kecil dan sempit membuat saya dan Julie sesekali terpaksa menuntun sepeda. Tetapi teman-teman lain yang sudah terbiasa dengan mudah melewatinya. Saya, Julie dan Pak Rasyid cukup kewalahan melalui jalan berlumpur di samping kanal aliran Sungai Jeneberang. Saya takut terjatuh ke dalam sungai. Teman-teman memandu kami mencari jalan yang mudah dan tak tergenang.




Menyaksikan pemandangan alam dan segarnya pagi



Pak Ahmad menceritakan, rute favorit mereka adalah dari Jalan Hertasning menuju BTP, lewat belakang perumahan tembus ke Antang dan akhirnya berakhir di Danau Mawang. Rute off road yang berat dan cukup sulit dilalui. Jika mereka mulai jalan pukul 6 pagi, biasanya berakhir pukul 11 atau 12 siang. Namun kali ini kami hanya menempuh jarak kurang lebih 30 kilometer dan kembali ke lokasi awal tepat pukul 9 pagi. Saya dan Julie tak menyangka bisa menyelesaikan rute ini dan menempuh jarak di luar perkiraan. Meskipun saya sampai mandi keringat dan merasa perjalanan itu tak berakhir, akhirnya begitu melihat gerbang Tanjung Bunga lagi , saya kembali bersemangat dan memacu sepeda.

Bersama-sama kami lalu menuju salah satu kafe yang terletak di sudut Jalan Bontolempangan. Sofie pun bergabung bersama kami sambil memperlihatkan foto-foto bidikannya sewaktu berjalan-jalan. Rencananya minggu depan, komunitas sepeda ini akan menuju ke Bendungan Bili-bili, sekaligus bertamasya di sana.

Seru juga mengisi akhir pekan dengan bersepeda, sekaligus berwisata, melihat tempat-tempat baru dan pemandangan alami. Mungkin pemerintah bisa melirik potensi kegiatan bersepeda ini sebagai salah satu paket wisata kota sekaligus mengkampanyekan hidup sehat dan hemat energi. Nah, jika suatu saat anda bersepeda dan bertemu serombongan orang dengan bermacam jenis sepeda dan atributnya serta mengajak bergabung, jangan sungkan mengikuti mereka, para penggemar sepeda di Losari Cycling Community.

Bisa juga dilihat di sini

Thanks to Aan yang mengedit

Posted at 05:27 pm by dejablue

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry