it's almost there, can't wait to hold you in my arms thank you for your patience while mummy was not in good condition during your early months it's so wonderful to have you in my womb i have always been fond of every development we both through every single moment with you is so precious
it's almost there, just remember always that mummy and daddy love you so much see you soon see you soon, my lovely baby...
"A journey of a thousand miles begins with a cash advance." – Bumper sticker
My mom once told me, " My daughter, enjoy your life while you can, save your money and do what you want !! But spend it smartly.."
Hehehe, sure mom, however, I am not good in money management. So, now I am bankrupt but I am happy with all the journeys I did... Promise you and to my lovely hubby, I'll try my best to saving my money for the future... (well, hopely my future is working and traveling with my family :-D )
I still don't know why I never want to eat aubergine or eggplant. Aubergine (in UK) or eggplant (in US) or solanum melongena (in Latin word) is a plant that originally from India. There are many varieties and colors of this fruit. In Indonesia, we called it 'terung' (some people pronounce it as terong). My Javanese's friends like to put it in their 'lalapan' (just like salad, from vegetables). My mom and my husband like it if it's fried or baked and then eat it with 'sambal terasi' (chili sauce with shrimp paste) or 'sambal kacang' (chili sauce with peanut). Me? Never eat it even though I love 'sambal terasi'. Maybe because I don't like when it is uncooked or mashed.
Then, one day, my housemate Isa was cooking a kind of lasagna with aubergine as one of the ingredient. Surprisingly, I like it. It's not like a typical of lasagna I know but since it has many layers so we called it 'Lasagna ala Isa'. So, after watch her some times, now I know how to make it by my self. Beside of its simplicity, also this kind of dish is healthy.
Here is the recipe :
Ingredient :
Aubergine (or eggplant or whatever we called it)
Courgette
Grated Cheese
Sliced Cheese
Tomato Sauce
Ground Paper
Salt
Olive oil or sun flower oil
How to make :
Chop aubergine and courgette into pieces, separately. Frying aubergine in a pan with oil and pour salt and paper (just a little) and then cover it with lid. Do the same thing with courgette.
While preparing for the layers, turn on the oven so that it already heat when you put the lasagna
Take your ovenware (pyrex) and put tomato sauce as the first layer. Spread until it covers all the bottom.
Then, put pieces of aubergine as the second layer. After that, cover it with sliced cheese.
Put tomato sauce again and then pieces of courgette on the top of it.
As the last layer, spread the grated cheese.
Put in your oven in 150 degree for 30 minutes and switch it to upper heat for 15 minutes
Serve while still hot with bread.
Hmm..yummy !!
Thanks to Isabel who finally can make me eat aubergine because of her delicious recipe.
Bingung gak tau mau ngapain.Minggu malam nongkrong di kamar saja. Teman rumah belum pada pulang liburan musim dingin.Gak bisa kemana-mana karna lagi badai salju, ini juga dah bersyukur sekali bisa nyampe rumah setelah penerbangan dicancel 2 kali. Mau kerjain 2 esai yang seminggu lagi mesti disubmit tapi malasnya gak ketulungan.Mau nonton film online juga ternyata belum ada film baru yang sudah bagus kualitasnya, mau nonton ulang film lama kok bosan. Nonton serial tivi di web, susah dapat yang full.Mau nonton channel tivi Indonesia, lagi gak ada yang bagus.
Iseng-iseng buka situs pertemanan yang dulu sempat populer, Friendster (FS). Rupanya FS makin mirip layoutnya dengan Facebook, hmm jadi kangen dengan situs ini.Buka FS sendiri dan FS suami, teringat perjumpaan kami pertama kali di jaringan ini.Membaca-baca lagi pesan-pesan di inbox buat/dan dari suami yang kala itu masih berstatus teman biasa saja,
Pertemanan kami dimulai tahun 2004, ketika saya memposting sebuah artikel mengenai 'life is beautiful' yang langsung diresponnya dengan mengadd sebagai teman. Senyum-senyum sendiri mendapati cerita-cerita kami di surat elektronik itu ternyata membahas banyak hal mulai dari agama, hobi, buku, film, musik, pekerjaan, cita-cita, sampai kisah cinta masing-masing. Selama 3 tahun pertemanan kami di dunia maya tak pernah menyangka suatu saat si sahabat diskusi ini akan menjadi suami. Saat itu memang kami tak pernah mengira. Selama tahun-tahun pertemanan itu, kami hanya pernah bertemu langsung 2 kali saja.
Pertama kali bertemu beberapa bulan setelah berkawan maya itu. Waktu itu saya masih bekerja sebagai sekertaris di salah satu rumah sakit di kota kelahiran. Saya mengajaknya berkunjung ke cafe baca kawan-kawan, mengingat dia suka membaca juga. Pertemuan yang biasa saja dan tak membawa kesan berarti, lagipula hanya setengah jam kalau tak salah. Rupanya kami memang lebih seru berbincang dan berdiskusi di dunia maya lewat FS, blog dan email. Saya suka tulisan-tulisan di blognya dan pemikiran-pemikirannya yang liar. Saya juga mengagumi percaya dirinya yang besar dan mimpi-mimpinya yang kurang lebih sama dengan saya. Tapi, yang membuat saya paling betah berbagi kisah dengannya karena pengetahuannya yang luas tentang agama-agama dan pandangannya mengenai kebebasan hidup terutama menyikapi cara yang 'berbeda' dalam memuja-Nya.
Pertemuan kedua terjadi saat saya terkena cacar air sepulang dari Jogja, sebulan sebelum ibunda tercinta berpulang. Saya meminta tolong untuk membukakan email dari seorang dosen di Jepang yang akan meneliti bersama saya. Kebetulan dia waktu itu bekerja disalah satu perusahaan dekat rumah saya yang punya fasilitas internet. Dengan muka penuh totol-totol cacar, saya menemuinya yang datang dengan selembar kertas print out email tersebut. Membaca sekilas isi email kemudian saya menulis di kertas tadi isi jawaban dari saya untuk dibalas. Tak lebih dari 15 menit saja sebab dia pun harus kembali ke kantor dan tentu saja mengetik email balasan saya itu. Sudah lama saya memang mempercayakan dia untuk memegang password email dan blog. Tak jarang saya memintanya untuk membukakan email atau sekedar mengecekkan blog saat saya tak mendapat jaringan internet selama perjalanan-perjalanan saya ke desa-desa saat itu. Hubungan kami sangat baik meskipun hanya dua kali itu bertemu langsung. Selain itu kami juga sibuk dengan urusan dan kehidupan pribadi masing-masing di dunia nyata.
Di pertemuan ketiga lah di tahun 2007 yang membuat status persahabatan kami berubah. Ketika itu saya sedang jenuh dengan rutinitas pekerjaan dan mood hati yang tak karuan. Terpikir untuk mencari suasana baru yang seminim mungkin orang-orangnya saya kenali. Ada dua pilihan saat itu, ke desa kecil di kaki gunung di Malang atau ke Kajang, sebuah kampung terpencil yang terkenal dengan keunikan budayanya. Sembari mencari pengalaman, juga ingin menuliskannya untuk sebuah situs jurnalisme orang biasa. Saya putuskan untuk ke Kajang karena selain saya belum pernah ke sana, juga ada dia yang bekerja sebagai guru baca tulis untuk anak-anak dusun, jadi ada akses untuk masuk ke suku ini. Ini juga tak sengaja saya ketahui ketika kami saling bertukar kabar lewat sms. Rupanya dia sudah berpindah kerja beberapa kali dan karena lebih tertarik untuk kerja di lapangan makanya dia lalu bergabung dengan salah satu LSM lokal dan bekerja di Kajang. Kali itulah saya benar-benar bisa bertemu dengan dia lebih lama dan mengenalnya lebih nyata. Dari semestinya 3 hari saya tinggal di dusun itu, akhirnya saya perpanjang hingga 5 hari. Melihatnya mengajar anak-anak membaca dan berhitung dengan penuh kesabaran membuat saya jadi makin kagum dengan pribadinya. Saya sendiri mencoba mengajari anak-anak tersebut berhitung dan sepertinya saya tidak cukup sabar dengan mereka. Suara saya naik 2 oktaf ketika mereka masih saja salah menghitung hasil pengurangan yang saya berikan. Jadi malu sendiri melihat dia dengan telaten dan tekun mengajari anak-anak tersebut. Dalam wawancara dengannya, saya banyak belajar hal-hal baru yang belum kami perbincangkan sebelumnya. Tapi masih tak terpikir untuk jatuh suka saat itu. Saya masih menganggapnya sebagai teman perjalanan saja. Sepulang dari sanalah semuanya baru dimulai. Saya pulang lebih dahulu dari dia. Tak biasanya, saya ingin terus berada di sana, terkesan. Padahal, diperjalanan-perjalanan sebelumnya saya tak sebegitu antusiasnya.
Dan begitulah akhirnya.
Ditahun akhir 2007, kami memutuskan untuk menaikkan level persahabatan maya ini ke sebuah persahabatan yang nyata sebagai pasangan kekasih. Tak banyak yang berubah dari kami dengan status baru ini karena kami pun tak ingin saling mengubah. Meskipun penyesuaian tetap ada, tapi karena kami sudah saling mengenal pribadi masing-masing sebelumnya maka tak cukup setahun kami lalu menikah. Dan surat-suratan kami tak lalu berhenti begitu saja, kami masih saling mengirim surat cinta lewat pos saat berjauhan. Saya percaya dengan sebuah kalimat yang mengatakan 'dengan berkirim surat, engkau memberikan hatimu tanpa perlu berpindah tempat'.
Hmm..sudah pukul 12 malam.
Salju sudah mulai berhenti. Air teh masih tersisa setengah gelas. Buku-buku bahan esai berserakan di atas meja belum tersentuh. Suara jarum detik jam di dinding mengingatkan untuk beristirahat. Semoga besok sudah ada semangat untuk mengerjakan tugas kuliah. Semoga.
Dalam perbincangan anak-ibu untuk yang kesekian kalinya ibuku berkata kepadaku:
Nak, jadilah orang yang melihat dengan hati, bukan dengan mata sebab mata sering menipu dan hati jarang berbohong. Jangan berharap pada penampilan, sebab itu bisa diubah tapi siapa yang mampu menundukkan ego dan sifat seseorang. Berbahagialah dengan apa dirimu menurutmu, bukan karena apa kata orang tentangmu. Jatuh cintalah berkali-kali dan patah hatilah sesukamu, sebelum engkau memutuskan yang terbaik untukmu, dengan begitu engkau akan belajar mengenal pentingnya sebuah komitmen. Jangan pernah takut untuk kalah, gagal, ditertawakan atau tersakiti, karena disitulah engkau memahami kebahagiaan yang sebenarnya. Hargailah setiap perbedaan, saling mengenallah dan membahagiakan tanpa harus mengubah, itulah yang nanti mengajarkanmu arti cinta kasih sesungguhnya. Berjalanlah kemana kakimu membawa, pergilah ke tempat yang engkau inginkan, lakukan apa yang mau engkau kerjakan, karena engkau takkan belajar apapun jika hanya duduk berdiam diri. Jangan tunjukkan muka sakitmu pada orang lain tapi perlihatkanlah wajah gembiramu, dengan begitu engkau menyembuhkan dirimu sendiri dan juga orang lain. Karenanya, jangan pernah takut untuk mati, sebab engkau telah puas dengan hidupmu...
Ibu, seandainya aku memiliki anak-anak kelak , aku akan mengajarkan hal yang sama kepada mereka. terbang bebas dan biarkan jiwanya menari-nari berpetualang dan memilih jalannya.
Ibu, sekarang istirahatlah yang tenang, Pada saatnya nanti kita bertemu lagi, akan kuceritakan padamu kisah-kisah perjalananku dan betapa bahagianya aku dengan hidupku, karenamu..
(Mom, it's been three years, but you always in my heart wherever I go)
(Another essay task for My Writing Class and it is a process essay..)
Life is more meaningful
if we have a dream to be achieved before we die. Some people have made it and
others probably still fight for it. I wrote my bucket list two years ago after my
mom passed away. Traveling to beautiful places is at the top of my list because
I believe that there are only two types of persons in this world: those who
like to travel and those who will die in boring. There is nothing more
fascinating to me than waking up in the morning, putting on the shoes, carrying
my backpack and getting ready for my next journey. Go wherever I want. I remember
one of my trip to Mumbai, India several years ago. I went there as a backpacker
for ten days and I don’t have to steal money from a bank or to born as the
daughter of Raam Punjabi to make an amazing Mumbai journey. It’s easier and cheaper than you think. Based
on my experiences, there are three steps that must be done in order to travel
with limited budget, which include the pre-departure preparation, the journey
itself and the going back process.
The first thing to do
is preparing the journey carefully. Goggle on the internet ‘the must-see places’
that you are dying to visit, choose one destination and browse for informationabout it. Then, decide when you will visit
it. Do not go there during the long weekend and peak season, otherwise you will
end up among crowded of tourists and go bankrupt. For example, if you want to
visit Thailand, you must look for details about the cultural ceremonies, accommodation
availability, the map, places that you are interested in, and so on. Usually,
the prices are cheaper if you are traveling on working days. Submit your
absence proposal to your boss a few months before so that you can arrange your
schedule and have enough time to collect money. If you travel by plane, book
your airplane ticket a few months in advance in order to get the special promo.
In order to save money on your expenses on food and accommodation, you may join
many social networks such as Facebook, Friendster, My Space, Hi5, and Orkut.
Make friends with people that come from the places you want to visit. Tell them
that you want to see their hometown someday. If they are offering you their
house to stay or want to escort you once you are there, say yes immediately and
make them promise so that you don’t have to spend your money for lodging, local
transportation, and meals.
Besides that, you
should also join travelers’ networks such as WAYN (Where Are You Now),
Passportstamp, TravBuddy and Travellerspoint to connect you with all travelers
around the world so that you know who has the same schedule as yours while
traveling to your destination. Maybe you can share transportation costs or
share accommodation with them. Furthermore, never forget to prepare your
documents such as ID card, passport, etc, make copies for all and put them in
different pocket. If you lose your document, you have to make report to the
nearest embassy of your citizenship and it probably cost you much money. Write
down important numbers on your notebook, just in case you are in emergency
situation and need to contact someone. Don’t bring many things in your
backpack. In fact, for two week journey, you only need to carry about four t-shirts,
two pants, two packs of disposal underwear, one pair of sneaker, one pair of
sandal, one jacket, two socks, and a hat. Buy a t-shirt with a slogan on it,
“same shirt but different days” to make people understand why you wear same
clothing every day. You can wash your clothes later or re-wear them.
After checking your
travel list above, you are ready for the journey. Make sure that you already
contacting your friends for places to stay. Don’t spend too long in one house
because you will burden your host, that’s why you need to be a member of
several social networks. Invite some travelers who have the same schedule as
yours to that place to go together in a group. At lunch time, you and other
travelers in group may order the menu but not too much and share the food and
price together. It is cheaper and still make you full. Unless you are an
insensitive person and don’t care what people may say about you, wait until
they all already order their food and ask them whether you can taste their
food. Do that to all of them until you full. Join different group at different
places and do the same thing. Furthermore, you must also remember to come back
exactly in dinner time and give compliment for the food so that the host family
feels happy to welcome you as a guest. Moreover, if you want to visit areas which
are quite far from your host family’s house, you may try hitchhiking. It is
free but a little bit dangerous for female travelers. If you don’t like that
idea, probably you can rent a motorcycle, which is cheaper and more efficient. You
may also try local transportation to experience native life. Nevertheless, if
you get used to jogging and walking, maybe you can go there by hiking and
trekking. You can enjoy the view and save your transportation cost, not to
mention you will be more healthy. Also, a mp3 player and a digital camera are a
must for you so that you won’t be feel boring. Bring extra full-rechargeable-batteries
just in case there is no electricity. Explore the beauty of places that you
visit by taking as many pictures as you can. One thing that you must always put
in your mind is the traveler’s motto that says “take nothing but pictures,
leave nothing but your footprints.” You may send your pictures later to travel
agencies after you go back home, maybe they will buy some for their promotion.
Write down every day on your journal about your trip and expand it to a
short-story, a novel, an article, or even a poem. Post them on your blog or
send them to local newspapers. You will get famous and people will invite you
to come to their hometown for free and then suddenly your agenda will be filled
with traveling schedules.
The last thing to do is
the going-back process. Before you start your trip, remind your family and
friends that you are going as a backpacker, which means you cannot carry many
things with you. They won’t ask you for souvenirs or request you to bring or
buy something. If they still insist that you bring them souvenirs, you may buy
something but only postcards or key-chains or anything under one dollar and
give them just to people who help you most. For those who have no contribution
to you, tell them that you don’t have space in your backpack anymore for
additional goods. Say it nicely because you never know that someday you
probably will need their help. Then, call your family or friend to pick you up
at the airport or bus/train station a day before your departure. Likewise, ask your
host family politely to take you to the nearest spot from the airport or
bus/train station. Later on, you can continue by doing hitchhiking again to get
there. Be a good guest by taking pictures with your host family and thank them
for the accommodation and help. On your way back home, be friendly with your
seat-mates and look for another opportunity for your next traveling
destination. When you are using the toilet, take a bottle/bar of soap that is usually
provided on the airplane because you can use it later. After you arrive, show
your happy expression when you are seeing your relative or friend who has came
to pick you. Share your stories and thank him/her indeed when you are already
at home. Furthermore, send email to those who have helped you during your trip
or post a gratitude message on their social networks’ walls, or if you know
their addresses don’t forget to send a thank-you letter to them.
Henceforth, do not wait
until you have much money to do your traveling. You don’t want to spend the
rest of your life in just one place, right? You must want to see other places,
see in person what people say as the most beautiful places, and have your own
experience there. You can still have a memorable journey with limited budget only
by following my steps which consist of the early preparation, on the-trip-skills
and the going-back approach. When you succeed with one journey,I bet you want to do more. Just do whatever
you want to do and go wherever you want to go. All you need to do is take a
single step to start your adventures. So, why don’t you begin it now?
(This is one of my essay homework for writing class with Mr. Bayu, I
haven't finish edit it because my next essay is waiting, hehehe)
Albany Ray, the son of
Sarah Azhari, was born without knowing who his biological father is. Both Ariel
Peterpan and Pasha Ungu, lead vocalists of famous bands in Indonesia, have a
crush on Aura Kasih but she still cannot decide which one of them will win her
heart. Widyawati and Sophan Sophian were married for almost twenty six years
until death separated them apart. These situations can happen to any of us and the
same stories are probably experienced by certain people. But, do you know that
they can also be found in animals’ lives? Do you realize some of animals have
similar behavior as humans in their romantic relationship? Do humans have
animal instinct in their mind or do animals have human instinct in their mind? Believe
it or not, animals and humans are almost alike in the way they are look for
their spouses. This statement is based on my observation and literature study
analysis on animals’ behavior in the mating period. There are four categories
of animals behavior that may reflect humans’ attitude toward the bond of love
because they already become the good representatives to be compared with
humans.
The first category is the
prince charming group. If you consider yourself as a loyal and faithful person,
wait until you know these two princes. The first prince is the Emperor Penguin,
the largest of all penguins. Emperor penguins are known as monogamous animal
which only have one partner until death do them apart. Despite the fact that they
spend most of their lives apart from each other and meet only once a year in
breeding spot for mating but male penguins are very patient and loyal to their
spouse. In the breeding season, the mother leaves her egg to the father for two
months and he doesn’t eat for that long because he must keep the egg warm under
his belly until it hatches while the mom dives for feed. Together with other
fathers, they huddle toeach other and
stand patiently. Male penguins can lose their weight about 40% at that time. After
the egg hatches, then it is the mother’s duty to warm the chick and father will
find food for them. The romantic thing about Emperor penguins is that they can
easily find their spouse only by recognizing their calls. Meanwhile, the second
prince charming is goose which also known as symbol of loyalty. Geese are
monogamous animal, too. They will stay with one partner for the rest of their
life.They will fly and swim together.
Usually, they are teasing each other while swimming and face one another by
lowering their necks and create love sign.
Next is the competition
group. Imagine yourself as a popular girl in your community, you love flirting
and boys are dying to marry you, then you are more like the Gray Whale. In
mating time, female gray whale flirts to a male whale and they both will tease
each other by swimming side by side across the ocean and sometimes rubbing one
body to another.During this romantic
journey, the female still looks for another chance to meet a better candidate
to be the father of her child and send some love signals to other males. At
this level, there is still no commitment between them.Then one male decide to join the competition
and they swim together with the female between the males. Three of them will
rubbing, swimming and rolling against one another until the final moment when
the female make her decision to choose which one she likes more. The good thing
about male whales is that they are all gentlemen. The loser one will support
the winner to ‘marry’ (or in animal terms is impregnating) her and they never
fight to win the female’s heart. As suggestion, whenever you want to follow
this game of love, remember to make sure all candidates are open-hearted and
don’t show your emotional feelings too obviously. Or, if you look for the
strongest one to win your heart and too shy to express your feeling, then you
may imitate Polar Bear behavior. You should give your positive impression to
several persons you like. A sow or female bear leaves her paws with a scent so
that boars or male bears can follow her to hunting areas. In a way to be
triumphant in this competition, boars show their power by having fights with
their rivals until they get scars or lose teeth, but they never fight brutally.
The loser one will leave the battle before get hurt or killed and the strongest
one will have the opportunity to mate with the sow.
The third one is the
bitch group. Cats, dogs, and red-sided garter snakes are examples of bitch
group member. Cats are very independent animals. No matter how close you are
with them and spoil thembut you will
never own them. They are free spirit animals. Female cats do polyandry and like
to mate with different males when she is in heat. Most of female cats don’t
know who is the father of their kittens because it only lasts 4-7 days for heat
period and they may have sex with many male cats during that time. Dogs also do
the same thing like cats do. Indeed, dogs are human best friend because they
are known as one of the loyal animals, but to their master only. They are not
type of loyal animal when related to sexual relationship. It goes similarly
with red-sided garter snake, even worst. Besides her polyandry behavior, a
female red-sided garter snake will invite all her husbandsto join in her mating orgy party. Moreover,
if you tend to be in this group, just make sure that you play safe and be
responsible for your choice.
The last category is
female-dominant group. What if you think that women have the power to do all
the things? What if you think that you don’t need a man at all in your life but
still want to have your own child? It’s easy. You can copy whiptail lizard’s
way in order to have a child of yours by cloning yourself.There are no male whiptail lizards. They are
also lesbian. They will cloning themselves if they want have babies. Scientists
called this cloning process as pseudocopulation,
where these lesbian couple switch roles as a male or female to stimulate the
eggs production in both of them. In another way, you may also choose to be a
single parent like clownfish. Clownfish supports transgender because male
clownfish can transform to female clownfish if the female dies or caught by
human. So, the male-turn to female-clownfish will become the mother
for the baby fish. The other members of this group are black-widow spider and a
queen ant. Black-widow spider got its name from the reputation of female
black-widow spider who sometimes kill or eat her spouse after mating. The
survivor male will continue their life with other females. Likewise, a queen
ant holds the highest position in ant’s kingdom and control the number of
female and male eggs she places. Female are dominant in this colony. Only the
queen and breeding female have the capability to reproduce while drones or
winged male ants are have nothing to do except eat and then die shortly after
mating. Both of black-widow spider and queen ant are strongly dominant and
powerful in their society. You probably may find someone with these personalities
in your community.
In conclusion, as C.S
Lewis said that humans are amphibians, we are consisted of half spirit that
belong to the eternal world and half of animal that inhabit time. We cannot
avoid the facts that human and animal are connected to each other and in some
ways are influence one another. Half of ourselves will always follow the nature
and the other will follow the rules. Whether human instinct or animal instinct,
the choice is given to our personal decision. These four categories are
presented as examples of both of them. After all, beauty is only skin deep, I
will let the judge on you, my readers.
Wattunna Matayya Carita.
Carita tentang Mariso wattu riolo sanggenna kamma kammanne. Carita passala’
passulo, paboya tude, loro, pannambungang alloang, goccang-goccang, anak
sikola, jamang allo.. Wattunna katte-katte bicara, saatnya kami bicara. Wattunna
katte carita.. Demikianlah yang hendak disampaikan oleh anak-anak dan remaja
yang tinggal di sekitar pesisir Mariso. Tibalah saatnya mereka yang menyuarakan
apa yang selama ini mereka amati dan menjadi bagian dari kesehariannya lewat
acaranya yang mereka sebut sebagai Trilogy “Saatnya”
------***------
Anak dan remaja
seringkali dianggap tidak cukup penting untuk mengeluarkan pendapatnya atas
pembangunan yang terjadi di lingkungannya. Mereka seakan dibungkam untuk
menyuarakan pengamatannya tentang apa yang terjadi di sekitarnya. Sementara
perubahan yang mengatasnamakan pembangunan terus terjadi bahkan kian lama
secara perlahan menggusur lingkungan serta mengambil alih tempat bermain dan belajar
mereka. Mereka dianggap belum dewasa untuk berperan serta dalam proses
perubahan dan pembangunan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tugas
mereka cukup hanya belajar dan atau bekerja membantu orang tua. Segala tetek
bengek pembangunan dan masalah sosial adalah urusan orang dewasa dan
pemerintah.
Selama ini yang
terjadi adalah pembangunan fisik yang terus menerus dilakukan oleh pemerintah
yang kerapkali tidak dibarengi oleh upaya-upaya memperhatikan dan memperbaiki
efek dari perubahan yang terjadi karena pembangunan tersebut. Padahal, dalam UU
no 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak mengatakan bahwa anak (dan remaja) adalah
tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, memiliki
peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan
eksistensi bangsa dan negara pada masa depan. Bahwa
agar setiap anak kelak mampu memikul tanggung jawab tersebut, maka ia perlu
mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara
optimal, baik fisik, mental maupun sosial, dan berakhlak mulia, perlu dilakukan
upaya perlindungan serta untuk mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan
jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya serta adanya perlakuan tanpa diskriminasi. Sementara akibat dari pembangunan itu justru paling rentan memberikan
efek kepada mereka yang masih belia ini. Mereka menjadi kekurangan public space sebagai tempat bermain,
minimnya sarana dan prasarana yang mendukung potensi pengembangan diri mereka
akibat prioritisasi pembangunan yang tidak memihakpada peningkatan kapasitas mereka sebagai
individu. Inilah yang coba digambarkan oleh anak-anak dan remaja di kawasan
pesisir Mariso yang menjadi binaan dari SOKOLA, sebuah lembaga pendidikan
alternatif yang banyak memfokuskan diri pada pendampingan pendidikan dan
ketrampilan hidup untuk anak dan remaja.
Berbagai peristiwa,
aktifitas pembangunan dan perubahan yang terjadi di kawasan pesisir Mariso yang
terjadi dalam beberapa waktu belakangan ini direkam oleh anak-anak dan remaja
(usia 6 – 18 tahun) tersebut melalui berbagai media yang dianggap mampu
menyuarakan pikiran, perasaan dan pendapat mereka selama ini. Sejak kurang
lebih setahun terakhir ini, anak-anak dan remaja yang berada dibawah binaan para
volunteer SOKOLA ini dibekali dengan
berbagai kegiatan dan ketrampilan dengan menggunakan media dimana mereka bisa
belajar untuk melihat potensi diri sebagai individu yang mempunyai kekuatan
untuk memaknai diri dan berperan serta dalam proses pembangunan yang terjadi
disekeliling mereka dan di kehidupan sehari-hari.
(pementasan teater anak-anak)
Melalui media
newsletter “Kareba” yang terbit setiap dua kali sebulan, mereka dilatih jurnalistik
dasar dan penulisan sehingga berbagai kejadian dan hal-hal yang menarik yang
terjadi disekitar kawasan Mariso dapat mereka tuangkan dalam berbagai tulisan
seperti halnya seorang citizen reporter dimedia-media besar lainnya. Tawuran,
permainan goccang-goccang, payabo bahkan hingga angin puting
beliung yang merusak atap sekolah mereka pun dituangkan sebagai bentuk
kesadaran kritis mereka yang kian berkembang. Mereka juga mencoba menyuarakan persepsinya
atas gambaran sosial lingkungan melalui media lainnya. Lewat foto-foto, lukisan
dan video komunitas yang mereka buat bersama, terekam berbagai realitaskehidupan warga Mariso yang sarat akan
kesederhanaan namun tetap menggambarkan keceriaan serta keunikan keseharian masyarakatnya.
(Pameran lukisan)
Sebagai bentuk
apresiasi terhadap karya anak-anak dan remaja ini dan dalam rangka memperingati
Hari Anak, pada tanggal 12 Juli lalu, bertempat di kawasan Mariso pihak SOKOLA
yang didukung oleh SoFEI dan Save The Children UK mengadakan Pementasan Teater
serta Pameran Foto dan Lukisan dengan tema “Saatnya Mata Bercerita, Saatnya
Kami Bicara, Saatnya Kami Bercerita”. Dalam pementasan yang berjudul “Saatnya
Kami Bercerita” tersebut menceritakan tentang potret suka-duka kehidupan
masyarakat pesisir yang diperankan oleh 20 anak-anak dan remaja. Melihat
keceriaan dan kepolosan mereka dalam melakonkan suka-duka kehidupan masyarakat
pesisir Mariso yang digambarkan dengan sangat lucu dan lepas, menunjukkan
betapa segala permasalahan yang mereka alami sebagai akibat dari perubahan yang
terjadi dikeluarga dan sekitarnya oleh pembangunan ternyata mampu dihadapi
dengan senyum dan tawa polos kanak-kanak yang ceria. Dan walaupun diusia yang
masih belia, mereka bisa memperlihatkan kesadaran kritisnya atas apa yang
berlangsung di lingkungannya. Ini terlihat pada lukisan dan foto-foto yang
dipamerkan yang sarat dengan objek yang tidak jauh dari keseharian mereka.
Sapuan kuas dan jepretan foto mereka yang meskipun masih dalam kategori pemula
ternyata mampu membawa kita dalam imajinasi mereka mengenai lingkungan
sekitarnya. Bagaimana mereka mesti membiasakan diri hidup dengan genangan
sampah, anak-anak yang mesti bekerja membantu orangtua sebagai tukang becak,
nelayan yang pergi mencari tude, pinggiran kanal yang berubah fungsi menjadi WC
umum dan banyak lagi yang terekam secara ekspresif dalam karya-karya mereka.
Bersamaan dengan pementasan teater dan pameran tersebut, juga diluncurkan buku
yang berisi kumpulan karya anak-anak pesisir Mariso-Makassar terhadap peristiwa
dan perubahan yang terjadi di sekitarnya. Penjualan buku yang berjudul “Saatnya
Kami Bicara” ini akan disumbangkan bagi pengembangan Balla Pappilajarang SOKOLA
Makassar agar dapat terus memberikan yang terbaik bagi pendidikan dan pelatihan
anak-anak di pesisir Mariso. Seperti yang dikatakan oleh Lasti Kurnia, seorang
fotojurnalis Harian Kompas, bahwa lewat buku yang memuat artikel, puisi, fiksi
dengan ilustrasi karya lukis anak-anak Mariso ini menjadi gambaran yang sangat
berharga untuk mengenal masyarakat pesisir Mariso bagi orang-orang yang berada
diluarkomunitas tersebut. Aan Mansyur,
seorang sastrawan muda Makassar, dalam komentarnya pula mengatakan bahwa
anak-anak yang menulis buku ini memberi contoh bagaimana caranya melunasi
hutang kita kepada dunia dalam membuat catatan tentang diri kita. Tepuk tangan
yang tak putus-putusnya, teriakan kegembiraan masyarakat dan airmata yang
bergenang oleh tatapan haru para penonton malam itu membuat kita tersadarkan
bahwa kita memang mesti malu pada mereka, kita mesti belajar banyak pada
anak-anak ini.
Baru-baru ini di sebuah kegiatan Pelatihan dimana saya bekerja secara freelance saat hendak berkemas pulang, beberapa orang nampak sedang memasang sesuatu pada dinding gedung. Saya lalu menghampiri bersama kawan-kawan. Rupanya mereka sedang memasang sebuah spanduk untuk acara Malam Ramah Tamah karena pelatihan mereka telah selesai. Saya lalu membaca tulisan di spanduk itu yang nampak begitu jelas dan besar. Setelah membaca tulisan dispanduk itu, kening saya berkerut dan saya mencoba untuk memahami apa yang dimaksud dalam kalimat dispanduk itu. Kawan-kawan yang lain pun sama bingungnya dengan saya dan setelah meminta izin untuk mengambil foto spanduk tersebut, kami lalu bersama-sama pulang sembari membahas apa maksud kalimat tersebut bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Bahkan, sampai ditempat saya tinggal pun, kami yang kemudian membahasnya dengan kawan lain, juga tak bisa secara elok menemukan terjemahan yang pas untuk kalimat dispanduk itu.
We Are The A Together Everybody Achieves More To Make It's PNS, It's Attitude Forever
(tulisan yang dispanduk)
Penasaran dengan terjemahan kalimat itu, saya mengajak kalian-kalian untuk ikutan sayembara menebak terjemahan kalimat spanduk. Bagi satu orang yang bisa secara elok, atau secara lucu tapi pas menerjemahkan kalimat bahasa Inggris dalam spanduk itu kedalam bahasa Indonesia akan mendapatkan 1 buah buku "Indonesia di Panyingkul!" secara gratis. Hadiah akan dikirimkan ke alamat pemenang. Siapa saja boleh ikutan. Jurinya tentu saja saya sendiri. Pemenang ditentukan oleh keelokan atau kelucuan terjemahan yang pas dalam menerjemahkannya.
(hadiahnya !!)
Jika berminat, bisa menjawab di comment artikel ini dengan menuliskan: - Nama - Alamat blog - Alamat tempat buku akan dikirim (bila menjadi pemenang) - Terjemahan kalimatnya dalam bahasa Indonesia
Sayembara ini murni iseng aja..tapi hadiahnya gak iseng lho..benaran !! Ayooo ikutaannn !!! Deadline : 31 Juli 2008
" Mari kita mengkampanyekan pemakaian bahasa Indonesia...!! "